PENDIDIKAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SIAPA?

Posted by PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN on Minggu, 29 Januari 2017

Karakter bangsa yang ditandai kualitas ahlak atau budi pekerti generasi muda, khususnya kalangan pelajar saat ini dirasakan cukup menghawatirkan. Fenomena ini ditandai dengan menurunnya tatakrama kehidupan sosial, etika moral dalam praktik kehidupan sekolah yang mengakibatkan sejumlah ekses negatif yang merisaukan masyarakat. 


Ekses tersebut antara lain semakin maraknya penyimpangan berbagai norma kehidupan agama dan sosial kemasyarakatan yang terwujud dalam bentuk perlakuan siswa yang kurang hormat kepada guru dan staf sekolah, kurang disiplin dan tidak mengindahkan peraturan sekolah, kurang menjaga keindahan dan kebersihan lingkungan, terjadinya perkelahiann antar pelajar, penggunaan obat terlarang, dan lain-lain.

Mengapa fenomena itu terjadi? Tentunya banyak faktor. Salah satunya disebabkan masih banyak guru yang selama ini cenderung indoktrinatif dan hanya transfer pengetahuan (transfer of knowlage) yang menekankan pada aspek kognitif dan mengabaikan aspek afektif dan psikomotor. Akibat dari kesalahan tersebut, peserta didik memiliki pengetahuan tetapi tidak (kurang) memahami dan melaksanakan aspek budi pekerti dalam kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan peserta didik tidak memiliki sistem nilai yang diyakininya

Faktor lainnya yang menyebabkan pendidikan di sekolah tidak berhasil dalam menanamkan karakter dalam artian pembinaan budi pekerti siswa karena masih ada anggapan guru yang salah. Masih ada sebagian guru beranggapan bahwa kewajiban dan tanggung jawab mengajarkan nilai dan moral kepada peserta didik hanyalah guru Agama dan PPKn (Pendidikan Pancasila). Anggapan guru tersebut menyesatkan dan harus diluruskan, pada dasarnya semua guru berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengajarkan nilai dan moral kepada peserta didik yang dilakukan secara terintegrasi. 

Salah satu misi pendidikan adalah menamamkan karakter bangsa dengan melindungi, melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa dan budi pekerti yang luhur dalam tata kehidupan sekolah. Telah disepakati, bahwa pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti dimasukkan dan diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. Dan yang lebih diharapkan adalah pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti menjadi bagian yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari- hari di sekolah

Sebagaimana kita ketahui sejak diberlakunya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan KTSP, pendidikan karakter dan budi pekerti tidak termasuk mata pelajaran sendiri tetapi muatan dari pendidikan budi pekerti itu sendiri harus terintegrasi pada semua mata pelajaran. Begitu pula dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Terintegrasinya materi pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti dalam semua mata pelajaran agar tanggung jawab moral tidak terletak hanya pada satu mata pelajaran saja, namun menjadi tanggung jawab semua mata pelajaran. Dalam Kurikulum 2013 Pendidikan Budi Pekerti masuk menjadi bagian Pendidikan Agama. Tetapi, harus diingat ini tidak berarti Pendidikan karakter dan budi pekerti hanya kewajiban guru agama

Faktor lainnya yang menarik untuk didiskusikan dalam kaitannya dengan penerapan karakter bangsa adalah masalah yang mengatur regulasi perlindungan terhadap guru dalam menerapkan pembinaan terhadap siswa. Pengalaman menunjukkan bahwa ketika banyak guru yang di "kasuskan" karena menerapkan tata tertib sekolah, fenomena kenakalan remaja dan penurunan karkater bangsa justru semakin meningkat. 

Pendidikan Karakter dan Pendidikan budi pekerti itu sendiri bertujuan mendorong kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji, dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab, peserta didik sebagai penerus bangsa, memupuk ketegaran dan kepekaan mental peserta didik terhadap situasi sekitarnya sehingga tidak terjerumus ke dalam perilaku yang menyimpang, baik secara individual maupun sosial. Meningkatkan kemampuan untuk menghindari sifat-sifat tercela yang dapat merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

Tujuan tersebut dapat dicapai ketika Pendidikan Karakter dan pendidikan Budi Pekerti dimplementasikan kedalam proses pembelajaran pada semua mata pelajaran dan dipraktekankan dalam kehidupan di sekolah. 

Nilai-nilai karakter dan budi pekerti yang dapat dintegrasikan dan dipraktekan di sekolah antara lain keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan mentaati ajarannya, menaati ajaran masing-masing agama, memiliki dan mengembangkan sikap toleransi, memiliki rasa menghargai diri sendiri, tumbuhnya disiplin diri, mengembangkan etos kerja/etos belajar, memiliki rasa tanggung jawab, memiliki rasa keterbukaan, mampu mengendalikan diri, mampu berfikir positif, mengembangkan kualifikasi diri, menumbuhkan rasa cinta dan kasuh sayang, memiliki kebersamaan dan gotong royong, memiliki rasa kesetiakawanan, saling menghormati, memiliki tata krama dan sopan santun, memiliki rasa malu, menumbuhkan kejujuran. 

Nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan kepada siswa selama pengalaman proses pembelajaran di kelas maupun proses pembelajara di luar kelas dalam membentuk perilaku siswa. Disamping budi pekerti, pendidikan karakter juga harus memasukkan pengetahuan tentang hak azasi manusia, pariwisata, lingkungan hidup, pencegahan konsumeristik, kependudukan, kehutanan, home industri/ekonomi, pencegahan HIV/AIDS, penangkalan narkoba, perdamaian, demokrasi dan peningkatan konsensus pada nilai-nilai universal dalam pembelajaran mata pelajaran yang sesuai.

Dalam proses belajar mengajar guru dan stekholder sekolah harus menjadi figur contoh dalam setiap perilakunya yang dapat mewarnai perilaku semua siswa. Oleh karena itu jelas bahwa hubungan anatara kreatifitas guru dan stekholder sekolah dalam bertindak, berperilaku, berkomunikasi setiap saat mesti mendukung pembelajaran setiap mata pelajaran di kelas atuapun diluar kelas.

Guru memang merupakan titik sentral keberhasilan pendidikan karakter dan budi pekerti di sekolah. Namun keberhasilan pendidikan karakter dalam lingkup nasional sangat tidak mungkin tanpa dukungan pihak lain seperti keteladanan pejabat, dukungan media, keteladanan tokoh masyarakat dan pihak lainnya. Coba bayangkan betapa sulitnya guru PKn menjelaskan pentingnya hukum ketika para pejabat tak mentaati hukum

Setidaknya ada dua persyaratan yang harus dilaksanakan agar proses pembelajaran mampu mengintregrasikan pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti, yaitu (a) kejelian profesional para guru dalam mengantisipasi pemanfaatan berbagai kemungkinan arahan pengait yang harus dikerjakan para siswa untuk menggiring terwujudnya kaitan-kaitan koseptual intra atau antarmata bidang studi dan (b) penguasaan material terhadap bidang-bidang studi yang perlu dikaitkan. Berkaitan dengan Pendidikan Karakter dan Pendidikan Budi Pekerti sebagai pembelajaran yang terpadu dengan semua mata pelajaran arahan pengait yang dimaksudkan dapat berupa pertanyaan yang harus dijawab atau tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh para siswa yang mengarah kepada perkembangan karakater dan budi pekerti dan pengembangan kualitas kemanusiaan. 

Guru-guru SMP dan SMA harus mampu menerapkan pengembangan kepribadian siswa dan penguasaan kemampuan dan keterampilan yang dipersyaratkan untuk menguasai suatu dasar awal disiplin ilmu secara seimbang dan sinergikKita tidak berharap melahirkan generasi muda yang terampil tanpa budi pekerti, kita pun tak berharap melahirkan generasi yang berbudi pekerti yang tidak punya keterampilan. Yang kita harapkan adalah generasi unggul yang berketerampilan tinggi dan berbudipekerti yang baik. 

Karakter atau  budi pekerti berkembang melalui empat tahap yaitu tahap anatomi, heteronomi, sosionomi, dan anatomi (Bull, 1969; Rachman, 2000). Mengingat budi pekerti berkembang melalui tahapan-tahapan perkembangan anak dan pengaruh lingkungan dimana anak memiliki hak mengembangkan dirinya maka pendidikan budi pekerti hendaknya diberikan secara dini, sekarang, dan selalu setiap waktu. Oleh karena itu, guru di sekolah, orang tua di rumah, instruktur/pelatih di tempat kursus, tokoh masyarakat di masyarakat dalam mengembangkan budi pekerti anak harus bersifat spontan dan segera. Spontan dalam merespon, menegur, mengarahkan ketika anak berbuat tidak sesuai dengan nilai budi pekerti; segera memberi penguatan ketika anak berbuat sesuai dengan nilai budi pekerti. 

Sekali lagi perlu ditegaskan dan disadari bersama bahwa pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti bukanlah hanya tanggung jawab guru mata pelajaran Pendidikan Agama, PKn atau Pendididikan Pancasila saja tetapi harus terintegrasi dalam seluruh mata pelajaran yang diajarkan di sekolah serta dalam berbagai kegiatan sekolah. Kegiatan-kegitan yang dilaksanakan di sekolah, terutama kegiatan kesiswaan perlu menerapkan totalitas pendidikan dengan mengandalkan keteladanan, penciptaan lingkungan dan pembiasaan hal-hal baik melalui berbagai tugas dan kegiatan. Pada dasarnya, pembudayaan lingkungan di sekolah dapat dilakukan melalui: 1) penugasan, 2) pembiasaan, 3) pelatihan, 4) pengajaran, 5) pengarahan, serta 6) keteladanan. Semuanya mempunyai pengaruh yang kuat dalam pembentukan watak dan budi pekerti siswa. Setiap kegiatan sekolah wajiba mengandung unsur-unsur pendidikan budi pekerti. Hal itu antara lain dapat dijumpai dalam kegiatan kepramukaan yang mengandung pendidikan kesederhanaan, kemandirian, kesetiakawanan dan kebersamaan, kecintaan pada lingkungan, dan kepemimpinan. Dalam kegiatan olahraga terdapat pendidikan kesehatan jasmani, penanaman sportivitas, kerja sama dan kegigihan untuk berusaha., dan lainnya 

Pembentukan karakter/watak dan budi pekerti peserta didik tidak cukup hanya diberikan di sekolah melainkan harus ditunjang oleh pendidikan luar sekolah. Pendidikan luar sekolah seperti dalam keluarga oleh orang tua, dalam kelompok belajar oleh para instruktur atau tutor; dalam kursus-kursus oleh para pelatih/pembina; dan dalam lingkungan masyarakat oleh teman sebaya, masyarakat, keteladanan tokoh masyarakat, keteladanan pejabat, keterladanan elit politik, dan sejenisnya. Mereka itu semua, secara proporsional harus dapat memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan. Keterpaduan, kesinambungan, dan keberlanjutan pendidikan budi pekerti yang dikembangkan di sekolah dengan pendidikan budi pekerti di luar sekolah diharapkan akan menghasilkan generasi bangsa yang memiliki karakter/watak dan budi pekerti luhur seperti yang diharapkan. (Pengawas Mapel PKn)


= Baca Juga =



Blog, Updated at: 22.48.00

0 komentar:

Posting Komentar

Search Artikel

-----------------------------------------

-----------------------------------------

Statistik Blog

Pengikut

CB