TEORI PEMBELAJARAN SOSIAL DAN TEORI BELAJAR SOSIAL

Posted by PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN on Jumat, 07 September 2012

A. Teori Pembelajaran Sosial
Konsep  motivasi  belajar  berkaitan  erat  dengan  prinsip  bahwa  perilaku  yang  memperoleh penguatan(reinforcement)  di  masa  lalu  lebih  memiliki  kemungkinan  diulang  dibandingkan dengan  perilaku  yang  tidak  memperoleh  penguatan  atau  perilaku  yang  terkena  hukuman (punishment).  Dalam  kenyataannya,  daripada  membahas  konsep  motivasi  belajar,  penganut teori  perilaku  lebih  memfokuskan  pada  seberapa  jauh  siswa  telah  belajar  untuk  mengerjakan pekerjaan  sekolah  dalam  rangka  mendapatkan  hasil  yang  diinginkan  (Bandura,  1986  dan Wielkeiwicks, 1995).



B. Teori Belajar Sosial

Dalam  dasawarsa  terakhir,  penganut  teori  konstruktivisme  memperluas  fokus  tradisionalnya pada pembelajaran individual ke dimensi pembelajaran kolaboratif dan sosial. Konstruktivisme sosial bisa dipandang sebagai perpaduan antara aspek-aspek dari karya Piaget dengan karya Bruner dan karya Vyangotsky. Istilah Konstruktivisme komunal dikenalkan oleh Bryn Holmes di tahun  2001.  Dalam  model  ini,  "siswa  tidak  hanya  mengikuti  pembelajaran  seperti halnya  air mengalir  melalui  saringan  namun  membiarkan  mereka  membentuk  dirinya."  Dalam perkembangannya muncullah istilah Teori Belajar Sosial dari para pakar pendidikan. Pijakan  awal  teori  belajar   sosial  adalah  bahwa  manusia  belajar  melalui  pengamatannya terhadap  perilaku  orang  lain.  Pakar  yang  paling  banyak  melakukan  riset  teori  belajar  sosial adalah Albert Bandura dan Bernard Weiner. 

Meskipun  classical  dan  operant  conditioning  dalam  hal-hal  tertentu  masih  merupakan  tipe penting dari belajar, namun orang belajar tentang sebagian besar apa yang ia ketahui melalui observasi  (pengamatan).  Belajar  melalui  pengamatan  berbeda  dari  classical  dan  operant conditioning  karena  tidak  membutuhkan  pengalaman  personal  langsung  dengan  stimuli, penguatan  kembali,  maupun  hukuman.   Belajar   melalui  pengamatan  secara  sederhana melibatkan pengamatan perilaku orang lain, yang disebut model, dan kemudian meniru perilaku model tersebut. 
Baik  anak-anak  maupun  orang  dewasa  belajar  banyak  hal  dari  pengamatan  dan  imitasi (peniruan)  ini.  Anak  muda  belajar  bahasa,  keterampilan  sosial,  kebiasaan,  ketakutan,  dan banyak  perilaku  lain  dengan  mengamati  orang  tuanya  atau  anak  yang  lebih  dewasa.  Banyak orang  belajar  akademik,  atletik,  dan  keterampilan  musik  dengan  mengamati  dan  kemudian menirukan  gueunya.  Menurut  psikolog  Amerika  Serikat  kelahiran  Kanada  Albert  Bandura, pelopor dalam studi tentang belajar melalui pengamatan, tipe belajar ini memainkan peran yang penting  dalam  perkembangan  kepribadian  anak.


Bandura menemukan   bukti   bahwa   belajar   sifat-sifat   seperti  keindustrian,  keramahan, pengendalian  diri, keagresivan,  dan  ketidak  sabaran  sebagian  dari meniru  orang tua,  anggota keluarga lain, dan teman-temannya.





= Baca Juga =



Blog, Updated at: 13.39.00

0 komentar:

Posting Komentar

Search Artikel

-----------------------------------------

-----------------------------------------

Statistik Blog

Pengikut

CB