INI PENJELASAN BSNP TERKAIT KETERLAMBATAN POS UN 2015

Posted by PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN on Friday, February 20, 2015



POS UN 2015 atau Prosedur Operasi Standar Ujian Nasional tahun ajaran 2014/2015 merupakan dasar dan acuan dalam penyelenggaraan Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah, Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa, Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, Sekolah Menengah Atas Luar Biasa, Sekolah Menengah Kejuruan, Program Paket A/Ula, Program Paket B/Wustha, Program Paket C, dan Program Paket C Kejuruan pada Tahun Pelajaran 2014/2015.

Tidak seperti biasanya hingga pertengahan Bulan Pebruari 2015, POS UN 2015 belum juga diterbitkan. Keterlambatan POS UN ini mengundang banyak pertanyaan dan ketidakpastian. Belakangan ini tersiar informasi bahwa sampai dengan tanggal 17 Februari 2015 POS UN 2015 masih dalam agenda pembahasan BSNP, hal ini karena masih harus menyesuaikan dengan rancangan revisi Permendikbud tentang revisi kriteria kelulusan dalam Ujian Nasioal tahun 2015
Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Zainal Arifin pada hari Rabu tanggal 18 Februari 2015 menyatakan bahwa terkait standard operating procedure (SOP) atau Prosedur Operasi Standar  POS UN 2015 akan segera diterbitkan. Dia mengungkapkan, penerbitan SOP atau POS UN 2015  menunggu keluarnya Permendikbud tentang UN 2015. Sementara itu, Permendikbud dibuat setelah Peraturan Pemerintah (PP) terkait UN ditandatangai presiden. ’’Informasinya, Bapak Presiden sudah meneken PP itu (terkait UN, Red). Insya Allah pekan depan sudah bisa sosialisasi SOP/POS UN,’’ tutur Zainal

Nilai UN 2015 dipastikan Jadi Pertimbangan SNMPTN
Tarik ulur dipakai tidaknya nilai UN untuk masuk perguruan tinggi tanpa tes berakhir sudah. Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNM PTN) 2015 menyetujui penggunaan nilai Ujian Nasional UN 2015 sebagai pertimbangan kelulusan SNM PTN.
Keterangan tentang kepastian fungsi nilai UN untuk pertimbangan kelulusan SNM PTN itu disampaikan Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Zainal Arifin. ”Rabu kemarin (18/2) kan ada rapat di Kemendikbud. Secara konsep (nilai UN untuk pertimbangan kelulusan SNM PTN, Red) sudah disepakati majelis rektor, Kemendikbud, dan Kemenristekdikti,” katanya di Jakarta (19/2).
Zainal mengatakan, panitia SNM PTN bersedia menerima nilai UN sebagai pertimbangan kelulusan dengan syarat. Guru besar ilmu komputer Universitas Indonesia (UI) itu mengatakan, syarat yang harus dipenuhi panitia UN di Kemendikbud adalah mempercepat pengolahan data lembar jawaban komputer (LJK).
’’Panitia UN di Kemendikbud akhirnya menyetujui syarat itu,’’ ungkap petinggi otoritas penyelenggara UN tersebut. Jadi, akhirnya jadwal pengolahan LJK dipercepat, tetapi jadwal pengumuman kelulusan UN tetap pada 18 Mei.
Untuk mempercepat pengolahan LJK, Kemendikbud sudah menyiapkan skenario baru. Yakni, memperbanyak titik pemindaian LJK UN. Zainal mengatakan, selama ini dalam satu provinsi, pemindaian LJK umumnya dilaksanakan di satu PTN.
Karena itu, untuk mempercepat pengolahan nilai UN, tahap pemindaian LJK digarap keroyokan oleh PTN-PTN provinsi setempat. ’’Umumnya ada lebih dari satu PTN dalam satu provinsi. PTN-PTN itu dioptimalkan untuk membantu pemindaian LJK,’’ jelas dia.
Dengan langkah tersebut, Zainal berharap pemindaian berlangsung cepat dan nilai hasil pengolahan LJK bisa disampaikan ke panitia SNM PTN lebih dini. Dengan demikian, panitia SNM PTN bisa memiliki waktu untuk mengolah nilai UN itu sebagai pertimbangan kelulusan SNM PTN.
’’Sekarang posisinya sudah jelas, siswa calon peserta UN saya harap belajar dengan serius,’’ ujarnya.
Meski UN tidak lagi berfungsi sebagai penentu kelulusan, Zainal yakin tidak ada siswa yang mengerjakan soal ala kadarnya. Menurut dia, semua siswa ingin mendapatkan nilai bagus, apalagi nilai itu menjadi pertimbangan masuk PTN.
Keputusan fungsi nilai UN sebagai pertimbangan kelulusan SNM PTN dalam beberapa pekan terakhir mengalami tarik ulur. Kali pertama Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Muhammad Nasir menyatakan bahwa nilai UN menjadi pertimbangan kelulusan SNM PTN. Bahkan, bobot nilai UN, menurut Nasir waktu itu, mencapai 10 persen.
Kebijakan tersebut lantas dipertegas jajaran Kemendikbud. Dalam pengumuman persiapan pelaksanaan UN 2015 awal Februari lalu, Mendikbud Anies Baswedan mengatakan, nilai UN dipakai panitia SNMPTN.
Tetapi, beberapa saat kemudian, muncul keterangan berbeda dari para rektor PTN selaku panitia SNM PTN. Ketua Panitia SNM PTN 2015 Rochmat Wahab pernah menjelaskan bahwa nilai UN tidak dipakai dalam pertimbangan SNM PTN. Sebab, ada ketidakcocokan jadwal rangkaian UN yang dibuat Kemendikbud dengan jadwal rangkaian SNM PTN yang ditetapkan panitia.
Sikap panitia SNMPTN itu lantas membuat Menristekdikti mengoreksi pernyataannya. Mantan rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang tersebut menyatakan, nilai UN tidak dipakai dalam pertimbangan kelulusan SNMPTN. ’’Di sekolah saja UN  tidak menjadi penentu kelulusan, kenapa dipaksakan menjadi penentu kelulusan SNM PTN,’’ ujarnya saat itu.
Berdasar pernyataan panitia SNM PTN dan Menristekdikti itu, panitia UN di Kemendikbud menjadi gerah. Mereka langsung menjalankan lobi-lobi, termasuk pertemuan Rabu lalu (18/2). Pertemuan tersebut dikemas dalam agenda rapat koordinasi persiapan teknis UN. Dalam pertemuan disepakati secara bersama-sama bahwa nilai UN 2015 menjadi pertimbangan kelulusan SNM PTN.
Dengan keputusan tersebut UN 2015 sekalipun tidak dijadikan dasar kelulusan tetapi akan menjadi bahan atau persyaratan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Bagi siswa SMA/SMK/MA UN 2015 akan menjadi bahan pertimbangan seleksi di Perguruan Tinggi, dan bagi siswa SMP/MTS nilai UN akan menjadi dasar untuk memilih sekolah yang difavoritkan.

Sumber informasi :http://www.jawapos.com/





Blog, Updated at: 8:19:00 PM

2 komentar:

---------------------------------

---------------------------------


Tanggal dan Waktu Saat Ini (Online)

---------------------------------

Statistik Pengunjung

---------------------------------

---------------------------------

Followers

----------------------------------

---------------------------------

CB