SAAT PRESIDEN JOKOWI BERIDUL FITRI DI ACEH, DI TOLIKARA PAPUA TERJADI INSIDEN PEMBAKARAN MESJID

Posted by PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN on Monday, July 20, 2015



Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana dan sejumlah menteri Kabinet Kerja merayakan Idul Fitri 1436 H, yang jatuh pada Jumat (17/7) ini dengan melakukan kunjungan kerja ke Aceh.

Setelah Kamis (16/7) malam melepas peserta pawai takbir Idul Fitri 1436 H, Jumat (17/7) pagi, Presiden Jokowi dan Ibu Negara melaksanakan solat Idul Fitri 1436 H,  di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Presiden Jokowi tampak mengenakan kemeja putih berjas hitam dan menggunakan peci khas Aceh. Sementara Ibu Iriana tampak mengenakan baju putih dipadu dengan kain motif Karawang Gayo. Sementara bertindak sebagai Khotib dan Imam pada solat ini adalah Syeikh Ali Jaber.

INSIDEN TOLIKARA
Sebagaimana di informasikan dalam Republika.Co.Id, Masjid di Kabupaten Tolikara dibakar umat Nasrani menjelang shalat Ied, sekitar pukul 07 00 WIT, Jumat (17/7). Humas Polri Kombes Agus Rianto mengatakan, kasus itu bermula saat umat Islam Karubaga Kabupaten Tolikara hendak menjalankan shalat Idul Fitri.

Tiba-tiba, sekelompok massa dari luar berteriak-teriak. Umat muslim yang hendak shalat sontak kaget dan langsung melarikan diri ke Koramil dan Pos 756/WMS untuk meminta perlindungan. Sepeninggalan umat muslim itu, Masjid tersebut dibakar.  
"Saat itu ada yang berteriak, lalu umat muslim itu yang hendak shalat itu langsung melarikan diri ke koramil," kata Agus kepada Republika, Jumat (17/7).

Setelah pembakaran terjadi, aparat kepolisian setempat langsung mengusut kasus tersebut. Sampai kini, belum ada kabar terbaru dari kepolisian Papua tentang barang bukti  pembakaran Masjid. Mengenai surat larangan shalat Ied di Tolikara, kepolisian masih dalam tahap penyelidikan. Bahkan, untuk pengusutan kasus itu secara tuntas, kepolisian juga akan meminta keterangan Polres Tolikara yang menjadi tebusan dari surat larangan. 

"Kita masih tunggu informasi selanjutnya dari Papua," kata dia.
Menurut Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, inti persoalan adalah jemaat nasrani merasa terganggu dengan speaker masjid umat Muslim yang akan melakukan shalat ied. Umat Nasrani mengklaim suara speaker yang dipasang di tengah lapangan menggangu ketenangan umum.

Mereka kemudian meminta umat Muslim untuk membubarkan kegiatan shalat ied tersebut. Hal itu berujung pada perang mulut antara kedua kubu. Saat itulah kelompok nasrani melempari masjid dengan api hingga terbakar.

Kepolisian Papua melaporkan, selain Masjid, enam rumah dan 11 kios dilaporkan ikut terbakar. Kepolisian setempat sudah mengamankan kondisi dan terus menyelidiki latar belakang persoalan. Selain itu, kepolisian juga menghimbau masyarakat Tolikara dan sekitaranya untuk menahan diri dan tidak terprovokasi dengan isu yang beredar.

"Kami mengajak, mengimbau kepada seluruh masyarakat di Papua dan khususnya di Tolikara agar tidak terpancing dengan persoalan kekinian yang terjadi," kata Kepala bidang (Kabid) hubungan masyarakat (Humas) Polda Papua, Kombes Pol Patrige. 

Ia mengemukakan langkah nyata yang telah diambil oleh Kapolres Tolikara adalah berkoordinasi dengan bupati setempat sebagai pimpinan daerah. "Termasuk menjalin komunikasi dengan para tokoh agama, adat, pemuda dan perempuan, juga para ketua-ketua paguyuban, agar masalah yang ada tidak meluas ke daerah lainnya dan menangkap para pelaku," katanya.

PEMERINTAH DAN DPR MEMINTA MASYARAKAT TIDAK TERPROVOKASI KASUS KEKERASAN YANG TERJADI DI TOLIKARA

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengimbau umat Islam melalui para tokoh agamanya bisa menahan diri dan tidak terprovokasi kasus kekerasan yang terjadi di Tolikara, Papua, Jumat (17/7) kemarin. Ia meminta semua pihak menyerahkan sepenuhnya penyelesaian masalah ini pada pihak kepolisian.

“Sehubungan dengan adanya ajakan jihad ke Papua terkait kasus Tolikara, saya memohon kedewasaan dan kearifan umat Islam melalui para tokoh-tokohnya untuk tidak terpancing dan terprovokasi lakukan tindak pembalasan,” tegas Lukman melalui keterangan pers di situs kementeriannya, Sabtu (18/7).

Imbauan senada diungkapkan Mendagri Tjahjo Kumolo. Menurut mantan anggota DPR Komisi I itu, Dirjen Kesbangpol Kemendagri telah mengeluarkan radiogram untuk memberikan petunjuk-petunjuk pada masyakat agar bisa menahan diri.
"Masyarakat tidak perlu emosi terpancing situasi. Waspada terhadap provokator," tegas Tjahjo pada JPNN. 

Tjahjo meyakini aparat keamanan dan penegak hukum mampu menyelesaikan masalah itu. Ia hanya meminta intelijen 

lebih cepat melakukan deteksi dini terhadap wilayah rawan konflik seperti Papua.
"Daerah-daerah sumbu pendek pada prinsipnya perlu deteksi dini dan Kemendagri yakin sudah dilakukan tim intelijen terpadu," tandas Tjahjo

PRESIDEN JOKO WIDODO MENGUTUK KERAS INSIDEN TOLIKARA
Presiden Joko Widodo mengutuk keras pembakaran dan tindak kekerasan yang terjadi di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, saat pelaksanaan salat Idul Fitri pada Jumat (17/7), dan berjanji akan menegakkan hukum  bukan hanya untuk pelaku kriminal di lapangan tetapi juga semua pihak yang terbukti mencederai kedamaian di Papua.

“Saya jamin, hukum akan ditegakkan setegak-tegaknya, bukan hanya untuk pelaku kriminal di lapangan tetapi juga semua pihak yang terbukti mencederai kedamaian di Papua. Masalah ini harus diselesaikan secepatnya agar ke depan tidak terjadi lagi kekerasan di Tanah Papua,” kata Presiden Jokowi melalui fan page facebooknya Presiden Joko Widodo yang diunggahnya Minggu (19/7) malam.

Presiden mengemukakan, saat insiden Tolikara terjadi, ia langsung memerintahkan Menkopolhukam Tedjo Edhy Purdijatno,  Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, dan  Kepala BIN Sutiyoso agar segera turun ke lapangan dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengambil tindakan yang diperlukan, termasuk menemui para ketua adat dan tokoh agama untuk mengambil inisiatif perdamaian demi terjaganya Papua sebagai Tanah Damai.

Saat ini, lanjut Kepala Negara, situasi di Tolikara sudah kondusif. Aparat penegak hukum sudah berhasil mendapatkan beberapa fakta penting, dan saat ini terus bekerja keras untuk merangkai seluruh kejadian yang sebenarnya.

Kepala Negara juga mengaku sangat berterimakasih kepada para pimpinan lintas agama, ketua adat, dan tokoh masyarakat yang telah membantu proses pemulihan keadaan di Tolikara, Papua.

Kepala Negara juga berterima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia, yang dengan caranya masing-masing, telah ikut menjaga kedamaian di lingkungannya. “Saya tahu, masyarakat Papua mempunyai kearifan Papua, kebijakan adat turun temurun yang luhur, untuk menyelesaikan setiap persoalan yang terjadi, termasuk kasus Tolikara ini,” ujar Jokowi.

Presiden Jokowi menuturkan, dalam sejarah Papua, hubungan antar agama selalu terjalin harmonis. Salah satu peran agama di Papua, ungkap Jokowi, adalah sebagai mata air perdamaian, diperkuat dengan ikatan adat dan budaya masyarakat Papua yang cinta damai.
Karena itu, tegas Presiden, pemerintah akan mengambil tindakan apapun untuk menjaga ketenteraman hidup berbangsa dan bernegara di seluruh pelosok Tanah Air.

KASUS PELANGGARAN HUKUM

Sementara itu Kapolri Jenderal Badrodin Haiti pada Minggu (19/7) kemarin telah meninjau lokasi kericuhan saat solat Idul Fitri 1436 H, di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua.

Dari peninjauan itu, Kapolri menyimpulkan bahwa 11 (sebelas) orang yang terkena tembak saat insiden Tolikara adalah massa yang melakukan pelemparan kepada umat muslim yang sedang melakukan sholat Idul Firi di Lapangan Koramil di Karubaga, Tolikara.

Kapolri berjanji akan memeriksa ke-11 orang ini satu persatu dan jika dalam pemeriksaan memang cukup bukti bersalah, maka akan diproses secara hukum. “Kami akan identifikasikan satu per satu peran 11 orang ini, apakah diantara mereka ada yang teridentifikasi, maka akan diproses,” kata kapolri, usai melihat langsung kondisi di Karubaga, Minggu (20/7).

Sedangkan dua orang yang diidentifikasi sebagai penandatangan surat edaran pelarangan beribadah di Tolikara, menurut Kapolri, akan diperiksa sebagai saksi.

Kapolri menjelaskan, surat tersebut sebenarnya sudah diklarifikasi ke mereka yang menandatanganinya. Bahkan, pada 15 Juli 2015, Kapolres Tolikara melakukan komunikasi kepada bupati dan panitia, lalu mereka meralat surat itu meskipun hal ini belum disampaikan secara tertulisnya, hanya komunikasi lisan. “Jadi saya lihat ada miss komunikasi di sana dan belum tersosialisasikan. Sebab ini terputus belum sampai kepada masyarakat,” kata Kapolri saat berada di Makassar, Sulsel, Mingu (19/7).

Menurut Kapolri, saat ini situasi di Tolikara cukup kondusif. Hanya saja saat ini perlu diselesaikan adalah masalah pengungsi yang masih bertahan di belakang halaman Koramil di Karubaga.

Sesuai hasil pembicaraannya dengan muspida di Tolikara, lanjut Kapolri, ke depan akan dibangun kios permanen, supaya lebih nyaman untuk warga yang kios dan rumahnya dibakar massa.


Diolah dari berbagai sumber


Blog, Updated at: 9:47:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

---------------------------------

---------------------------------


Tanggal dan Waktu Saat Ini (Online)

---------------------------------

Statistik Pengunjung

---------------------------------

---------------------------------

Followers

----------------------------------

---------------------------------

CB