PERPUSTAKAAN SEKOLAH, PENGERTIAN MANFAAT DAN FUNGSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Posted by PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN on Thursday, January 7, 2016





Pengertian Perpustakaan Sekolah
1)    Pengertian Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan merupakan salah satu sumber belajar penting dalam proses pembelajaran. Menurut UU Perpustakaan No.43 2007  “Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para siswa sebagai penggunaan perpustakaan.”

Dalam UU Perpustakaan No.43 tahun 2007 pasal 20   Perpustakaan terdiri atas.
a)    Perpustakaan Nasional;
b)    Perpustakaan Umum;
c)    Perpustakaan Sekolah/Madrasah;
d)    Perpustakaan Perguruan Tinggi; dan
e)    Perpustakaan Khusus.

“Perpustakaan sekolah merupakan perpustakaan yang  berada di lingkungan sekolah, bertanggung jawab kepada kepala sekolah dan bertugas untuk melayani sivitas akademika sekolah tersebut”. (Surochman, 2007:2)

2)    Tujuan dan Manfaat Perpustakaan Sekolah
Bafadal (2009 : 5) menyebutkan bahwa penyelenggaraan perpustakaan sekolah bukan hanya untuk mengumpulkan dan menyimpan bahan-bahan pustaka, tetapi dengan adanya penyelenggaraan perpustakaan sekolah diharapkan dapat membantu siswa dan guru menyelesaikan tugas-tugas dalam proses belajar mengajar. Yusuf & Suhendar (2007 : 3) menyebutkan tujuan didirikannya perpustakaan tidak  terlepas dari tujuan diselenggarakannya pendidikan sekolah secara keseluruhan, yaitu memberikan  bekal kemampuan dasar kepada siswa, serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan menengah.
Tujuan dan Manfaat Perpustakaan Sekolah

Manfaat perpustakaan sekolah menurut Bafadal (2009 : 5) adalah sebagai berikut.
1)    Perpustakaan sekolah dapat menimbulkan kecintaan siswa terhadap membaca.
2)    Perpustakaan sekolah dapat memperkaya pengalaman belajar siswa.
3)    Perpustakaan sekolah dapat menanamkan kebiasaan belajar mandiri yang akhirnya siswa dapat belajar dengan mandiri.
4)    Perpustakaan sekolah dapat mempercepat proses penguasaan teknik membaca.
5)    Perpustakaan sekolah dapat membantu perkembangan kecakapan berbahasa.
6)    Perpustakaan sekolah dapat melatih siswa untuk bertanggung jawab.
7)    Perpustakaan sekolah dapat memperlancar siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah.
8)    Perpustakaan sekolah dapat membantu guru-guru menemukan sumber-sumber pengajaran.
9)    Perpustakaan sekolah dapat membentuk siswa, guru-guru dan staf sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.






3)    Fungsi Perpustakaan Sekolah
Bafadal (2009 : 6) menyebutkan bahwa perpustakaan sekolah itu merupakan sumber belajar, karena kegiatan yang paling tampak pada setiap kunjungan siswa adalah belajar, baik belajar masalah-masalah yang berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang diberikan di kelas, maupun buku-buku lain  yang tidak berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang diberikan di kelas. Apabila ditinjau dari sudut tujuan siswa mengunjungi perpustakaan sekolah, maka ada yang tujuannya untuk belajar, untuk berlatih menelusuri buku-buku perpustakaan sekolah, untuk memperoleh informasi, bahkan ada yang tujuannya hanya untuk mengisi waktu senggang atau sifatnya rekreatif.

Beberapa fungsi perpustakaan sekolah menurut Bafadal (2009 : 6) adalah sebagai berikut.
a.  Fungsi Edukatif
Segala fasilitas dan sarana yang ada pada perpustakaan sekolah, terutama koleksi yang dikelolanya banyak membantu para siswa sekolah untuk belajar dan memperoleh kemampuan dasar dalam mentransfer konsep-konsep pengetahuan, sehingga di  kemudian hari para siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan dirinya lebih lanjut.
b.  Fungsi Informatif
Mengupayakan penyediaan koleksi perpustakaan yang bersifat memberikan informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan para siswa dan guru.
c.  Fungsi Rekreasi
Fungsi ini bukan merupakan fungsi utama dari dibangunnya perpustakaan sekolah, namun hanya sebagai pelengkap saja guna memenuhi kebutuhan sebagian anggota masyarakat sekolah akan hiburan intelektual.
d.  Fungsi Riset dan Penelitian
Koleksi perpustakaan sekolah dapat dijadikan bahan untuk membantu dilakukannya kegiatan penelitian sederhana.

4)    Tugas/Kegiatan Perpustakaan Sekolah
Yusuf dan Suhendar (2007 : 7) menyebutkan bahwa terdapat tiga kegiatan utama dari perpustakaan sekolah, yaitu kegiatan  penghimpunan, pengolahan dan penyebarluasan segala  macam informasi pendidikan kepada para siswa, dan guru. Secara lengkap ketiga kegiatan utama perpustakaan sekolah tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.

1)     Menghimpun atau mengumpulkan, mendayagunakan, memelihara, dan  membina secara terus menerus bahan koleksi atau sumber informasi (bahan pustaka) dalam bentuk apa saja, seperti buku, majalah, surat kabar dan jenis koleksi lainnya.

2)     Mengolah sumber informasi yang telah disebutkan di  nomor 1 dengan menggunakan sistem dan cara tertentu, sejak dari bahan-bahan tersebut datang ke perpustakaan sekolah sampai kepada siap untuk disajikan atau dilayankan kepada para penggunanya yakni para siswa dan guru di lingkungan sekolah yang bersangkutan. Kegiatan ini  antara lain meliputi pekerjaan penginventarisasian, pengklasifikasian atau penggolongan koleksi, pengkatalogan, pelabelan, pembuatan alat pinjam dan lain-lain.

3)     Menyebarluaskan informasi atau bahan-bahan pustaka  kepada segenap anggota yang membutuhkannya sesuai dengan kepentingannya yang berbeda satu sama lain. Termasuk ke dalam kegiatan ini adalah pelayanan referensi dan informasi, pelayanan peminjaman koleksi, pelayanan promosi, pelayanan bimbingan kepada pembaca dan sebagainya termasuk pelayanan kepada para siswa dan guru dalam rangka mencari informasi yang berkaitan dengan bidang minatnya.


Tugas dan Kegiatan Perpustakaan Sekolah


5)    Pelayanan Perpustakaan
Pelayanan merupakan unsur utama dalam pencapaian suatu keberhasilan organisasi perpustakaan disebabkan bagian inilah yang berhubungan langsung dengan pengguna dalam penyebaran informasi serta pemanfaatan jasa dan fasilitas yang ada di perpustakaan. Pelayanan merupakan hal terpenting dalam suatu perpustakaan. Dapat didefenisikan demikian karena setiap pemberian jasa kepada pengguna semua harus melalui layanan sehingga kebutuhan informasinya dapat terpenuhi. Berdasarkan UU No. 43 Tahun 2007 pasal 14 tentang layanan perpustakaan menyebutkan.

1) Layanan perpustakaan dilakukan secara prima dan berorientasi bagi kepentingan pemustaka.

2) Setiap perpustakaan menerapkan tata cara layanan perpustakaan berdasarkan standar nasional perpustakaan.

3)    Setiap perpustakaan mengembangkan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

4)    Layanan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan melalui pemanfaatan sumber daya perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka.

5) Layanan perpustakaan diselenggarakan sesuai dengan standar nasional perpustakaan untuk mengoptimalkan pelayanan kepada pemustaka.

6)    Layanan perpustakaan terpadu diwujudkan melalui kerja sama antar perpustakaan.

 7)   Layanan perpustakaan secara terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dilaksanakan melalui jejaring telematika.

Menurut Bafadal (2011:124-149) terdapat dua macam pelayanan perpustakaan yang berkaitan dengan pelayanan pembaca, yakni pelayanan sirkulasi dan pelayanan referensi. Pelayanan sirkulasi meliputi peminjaman buku, pengembalian buku, dan statistic pengunjung atau peminjam. Sedangkan pelayanan referensi mencakup pelayanan informasi dan pelayanan pemberian bimbingan belajar.

Layanan perpustakaan pada intinya ditujukan untuk kepuasan penguna atau pemustaka. Kepentingan pengguna dalam memanfaatkan informasi yang tersedia di perpustakaan ada kalanya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut seharusnya dapat memotivasi pustakawan menambah pengetahuannya dalam bidangnya agar dapat memberi pelayanan maksimal bagi para pengguna.

Berkaitan dengan layanan perpustakaan, pustakawan dituntut bersikap ramah, sopan, tekun dan tidak cepat bosan, setiap memberi jawaban dari semua pertanyaan pengguna perpustakaan jika perlu memberikan jalan keluar membimbing dan mengarahkan setiap pengguna. Beranjak dari hal tersebut maka pustakawan harus memiliki kompetensi sehingga dapat menimbulkan pelayanan yang berkualitas sehingga pengguna dapat memperoleh informasi yang dibutuhkannya secara optimal dan memanfaatkan berbagai perkakas penelusuran yang tersedia.


Pelayanan Perpustakaan Sekolah


6)    Kualitas Layanan Perpustakaan Sekolah
Kualitas menurut ISO 9000 (Lupiyoadi dan Hamdani, 2006: 175). adalah : ”Degree to which a set of inherent characteristics fulfils requirement” (derajat yang dicapai oleh karakteristik yang inheren dalam memenuhi persyaratan). Persyaratan dalam hal tersebut adalah kebutuhan atau harapan yang dinyatakan, biasanya tersirat atau wajib. Dengan demikian kualitas seperti yang diinterpretasikan oleh ISO 9000 tersebut merupakan perpaduan antara sifat dan karakteristik yang menentukan sejauh mana output dapat memenuhi persyaratan  kebutuhan pelanggan.

Lupiyoadi dan Hamdani (2006: 175) menyatakan, bahwa pada dasarnya konsep kualitas bersifat relatif, yang bergantung pada perspektif yang digunakan untuk menentukan ciri-ciri dan spesifikasi. Terdapat tiga orientasi kualitas yang seharusnya konsisten satu sama lain (1) persepsi konsumen; (2) produk (jasa); (3) proses. Perpustakaan adalah merupakan organisasi yang memproduksi jasa, di sini diperlukan konsistensi untuk ketiga orientasi tersebut agar dapat memberikan pelayanan yang berkualitas.

Di dalam dunia bisnis, konsep kepuasan pelanggan masih bersifat abstrak. Kepuasan pelanggan adalah merupakan evaluasi purnabeli yang merupakan pemilihan alternatif yang dipilih paling tidak memberikan hasil (outcome) yang sama atau melebihi harapan. Namun akan terjadi hal yang sebaliknya, yaitu ketidakpuasan akan terjadi apabila hasil  yang didapatkan tidak dapat memenuhi harapan dari pelanggan (Tjitptono, 2008: 38).

Untuk mengetahui kualitas pelayanan (service quality) dapat dilakukan dengan cara membandingkan persepsi dari para siswa sebagai penggunaan perpustakaan atas pelayanan yang nyata-nyata mereka terima dengan pelayanan yang sesungguhnya mereka harapkan terhadap atribut-atribut pelayanan suatu perpustakaan.

Penilaian siswa sebagai penggunaan perpustakaan terhadap kualitas jasa perpustakaan akan terjadi selama proses penyampaian pelayanan. Setiap kontak yang terjadi antara pihak perpustakaan dengan pengguna merupakan gambaran mengenai suatu moment of truth, yaitu suatu peluang untuk memuaskan atau tidak memuaskan siswa sebagai penggunaan perpustakaan (Jafar, 2005: 48).

Pelayanan  didefinisikan sebagai setiap tindakan atau kegiatan yang  dapat ditawarkan oleh suatu  pihak kepada pihak lain, hal tersebut pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksinya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan pada satu produk fisik. Pelayanan merupakan perilaku produsen dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen demi tercapainya kepuasan pada konsumen (Kotler, 2002: 83). Dengan demikian, jika  dalam kenyataannya atau pelayanan yang diberikan melebihi dari yang diharapkan oleh para siswa sebagai penggunaan perpustakaan, mereka akan merasa sangat puas. Namun jika  pelayanan yang diberikan perpustakaan sama dengan yang diharapkan mereka akan puas. Sebaliknya jika layanan yang diberikan tidak sesuai atau bahkan dibawah harapannya, maka mereka akan merasa tidak puas atau bahkan sangat tidak puas.

Dewasa ini masyarakat semakin membutuhkan pelayanan yang efisien responsif, dan berkualitas. Kotler dalam Jafar (2005: 48) menyatakan bahwa kualitas akan dimulai dari penerima layanan dan akan berakhir pada persepsi penerima layanan, dalam hal ini adalah siswa sebagai pengguna perpustakaan. Dengan demikian, citra kualitas pelayanan perpustakaan yang baik bukanlah berdasarkan sudut pandang dari pihak perpustakaan, melainkan berdasarkan sudut pandang siswa sebagai pengguna perpustakaan.

Hal tersebut berarti bahwa seharusnya  perpustakaan mampu merespon dengan menyediakan layanan yang terbaik untuk siswa sebagai pengguna perpustakaan,  sehingga  pustakawan ditutuntut untuk dapat melayani dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan hasil yang optimal. Dewasa ini terjadi perubahan trend dalam hal perilaku siswa sebagai pengguna  perpustakaan, sehingga diperlukan perubahan untuk meningkatkan kualitas pelayanan perpustakaan yang berorientasi kepada siswa sebagai penggun perpustakaan (user oriented).

Untuk menciptakan kepuasan siswa sebagai pengguna perpustakaan, perpustakaan harus dapat memenuhi harapan dari siswa sebagai pengguna perpustakaan tersebut. Seperti dinyatakan oleh Tjiptono (2008: 98), bahwa harapan pelanggan merupakan  perkiraan atau keyakinan pelanggan tentang apa yang akan diterimanya bila ia membeli atau mengonsumsi suatu produk. Sedangkan kinerja yang dirasakan adalah persepsi pelanggan terhadap apa yang ia terima setelah mengonsumsi apa yang ia beli.

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi harapan pelanggan, seperti pengalaman berbelanja di masa lalu, opini teman dan kerabat, serta informasi dan janji-janji perusahaan dan para pesaing (Tjiptono, 2008: 98). Dengan melihat pernyataan tersebut perpustakaan harus dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan terhadap siswa sebagai penggunaan perpustakaan, sehingga perpustakaan akan mendapat opini yang baik. Kelengkapan informasi di perpustakaan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan, karena perpustakaan juga mendapat pesaing dalam dunia penyediaan informasi lainnya dan internet.

Dengan demikian untuk dapat memberikan kepuasan kepada siswa sebagai penggunaan perpustakaan, maka perpustakaan perlu terus mengikuti dan mengembangan teknologi komunikasi dan informasi, guna memberikan pelayanan kepada siswa sebagai penggunaan perpustakaan kapan saja dan di mana saja. Jika perpustakaan dapat melakukan hal tersebut maka kepuasan siswa sebagai pengguna perpustakaan akan terpenuhi, yang kemudian akan berdampak pada kualitas pelayanan perpustakaan.








7)    Karakteristik Kualitas Layanan Perpustakaan
Setiap pengguna berlainan dalam memahami, merasakan dan menilai tentang kualitas layanan pada perpustakaan. Menurut Saputro (2009: 18) terdapat beberapa hal yang sama berkaitan kualitas layanan perpustakaan yang diharapkan pengguna. Beberapa persamaan itu diantaranya.

a)    Pemustaka mengharapkan kenyamanan dalam menggunakan seluruh layanan perpustakaan.
b)    Pemustaka mengharapkan koleksi yang tersedia memenuhi kebutuhannya.
c)    Pemustaka mengharapkan sikap yang ramah, bersahabat dan responsif dari petugas.
d)    Pemustaka mengharapkan perpustakaan memiliki akses internet yang cepat.

Berkaitan dengan kualitas tidak dapat dipisahkan dengan Total Quality Management (TQM). TQM lebih tepat disebut sebagai suatu perpaduan semua fungsi dari organisasi ke dalam falsafah yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktifitas, pengertian dan kepuasan pelanggan.

Terdapat empat prinsip utama dalam TQM yaitu.
a) Kepuasan pemakai
Pemakai perpustakaan (pemustaka) yang menentukan tingkat kualitas yang diharapkan, spesifikasi, jenis layanan dan sebagainya. Pemustaka dalam arti yang luas bukan saja pengunjung/pelanggan perpustakaan, tetapi semua pihak yang terkait, misalnya badan yang menaungi perpustakaan, mitra kerja, sponsor bahkan dengan penerbit/pedagang buku.
b) Respek terhadap setiap orang
Sumber daya manusia merupakan faktor utama dalam organisasi. Setiap orang dipandang sebagai individu yang memiliki bakat, kemampuan, kreativitas dan kepribadian yang unik, Karena karakteristik tersebut maka pelibatan dan partisipasi setiap orang dalam organisasi sangat penting.
c) Manajemen berdasarkan fakta
Manajemen kontemporer bekerja tidak berdasarkan perasaan (feeling) dan kebiasaan yang terjadi, tetapi harus memiliki data yang komprehensif. Data diperoleh dari fakta yang terjadi di lapangan. Dengan data tersebut selanjutnya diolah sebagai dasar perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan dan evaluasi.
d) Perbaikan berkesinambungan
Agar sukses dan mampu bertahan, sebuah organisasi harus selalu melakukan perbaikan. Perbaikan dilakukan terus menerus karena kualitas bersifat dinamis. Perilaku dan preferensi pemakai juga mengalami perubahan. Prinsip hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin menjadi perilaku seluruh level di organisasi. (Saputro, 2009:18-19).

Dalam pemenuhan harapan dan keinginan pengguna, maka pemberi jasa layanan harus memenuhi berbagai indikator kualitas layanan perpustakaan sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara pengguna dengan pihak perpustakaan.

Cara pandang pelanggan dalam menilai indikator kualitas layanan perpustakaan menurut Zeithaml dan Bitner (Saputro, 2009:20-21) dapat diuraikan sebagai berikut.
a) Keandalan (Reliability) Kemampuan pustakawan untuk memberikan layanan sesuai yang dijanjikan dengan akurat, cepat dan memuaskan. Perpustakaan memiliki standar operasional dalam setiap jenis layanan, misalnya pengolahan buku dari sejak buku datang sampai siap dipinjam oleh pemustaka memerlukan waktu berapa hari dan lain-lain. Standar tersebut dikomunikasikan kepada pemakai.
b) Daya Tanggap (Responsiveness) Salah satu ciri seorang profesional adalah memiliki daya tanggap yang cepat atau responsif. Pemustaka akan sangat terkenang dengan respon cepat dari pustakawan atas kebutuhan yang dihadapinya.
c) Jaminan (Assurance) Yang termasuk jaminan antara lain kemampuan, kesopanan, sifat yang dapat dipercaya oleh pustakawan, sehingga pemustaka akan merasa nyaman dalam memanfaatkan layanan perpustakaan.
d)    Empati (Emphaty) Yaitu suatu sikap, respon dan tindakan di mana pustakawan dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh pemustaka. Pemustaka datang ke perpustakaan tentunya bermaksud mencari buku yang dibutuhkan, maka semaksimalnya apa yang dibutuhkan pemakai dapat terpenuhi. Ada kalanya pemakai datang untuk sekedar mencari kenyamanan dan ketenangan, maka pustakawan mencoba mengkondisikan apa yang dirasakan oleh pemustaka.
e)   Bukti Fisik (Tangible) Pelayanan yang terbaik pertama-tama dapat dilihat dari penampilan fisik yang impressive (baik fasilitas pelayanan maupun orang-orang yang melayani).

Pelayanan perpustakaan diharapkan mampu memuaskan kebutuhan pengguna secara proporsional sehingga tercipta hubungan yang saling menguntungkan bagi semua pihak, yaitu pustakawan, pengguna maupun institusi perpustakaan.
Indikator lain kualitas layanan perpustakaan dapat dilihat dari  kemampuan memenuhi standar layanan minimal dan layanan prima.

a.      Standar Pelayanan Minimal.
Menurut Undang-Undang 32 tahun 2004 penjelasan pasal 167 (3), menyatakan bahwa SPM adalah standar pelayanan yang memenuhi persyaratan minimal kelayakan. Sedangkan berdasarkan Lampiran Surat Edaran Dirjen OTDA Nomor 100/757/OTDA tanggal 8 Juli 2002 menyatakan Standar Pelayanan Minimal adalah tolok ukur untuk mengukur kinerja penyelenggaraan kewenangan wajib daerah yang berkaitan dengan pelayanan dasar kepada masyarakat.
Berdasarkan pengertian tersebut, secara umum dapat disimpulkan bahwa SPM merupakan standar minimal pelayanan publik yang harus disediakan oleh pemerintah kepada masyarakat. Dalam kaitan layanan perpustakaan sekolah, standar pelayanan minimal adalah ketentuan minimal pelayanan perpustakaan yang harus diberikan pihak sekolah kepada siswa atau peserta didik  Adanya SPM akan menjamin minimal pelayanan yang berhak diperoleh siswa dalam penggunaan sarana perpustakaan sekolah.

b.      Layanan Prima
Pelayanan prima merupakan terjemahan istilah ”excellent service” yang secara harfiah berarti pelayanan terbaik atau sangat baik. Disebut sangat baik atau terbaik karena sesuai dengan standar pelayanan yang berlaku atau dimiliki instansi pemberi pelayanan. Hakekat pelayanan publik adalah pemberian pelayanan prima kepada masyarakat yang merupakan perwujudan kewajiban aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat. 

Nurhasyim (2004:16) menyatakan bahwa pelayanan prima adalah.
a. Pelayanan yang terbaik dari pemerintah kepada pelanggan atau pengguna jasa.
b. Pelayanan prima ada bila ada standar pelayanan.
c. Pelayanan prima bila melebihi standar atau sama dengan standar. Sedangkan yang belum ada standar pelayanan yang terbaik dapat diberikan pelayanan yang mendekati apa yang dianggap pelayanan standar dan pelayanan yang dilakukan secara maksimal.
d. Pelanggan adalah masyarakat dalam arti luas; masyarakat eksternal dan internal.

Pelayanan prima akan dapat diwujudkan apabila pemberi layanan (pelayan) memiliki kualitas kompetensi yang profesional. Dalam kaitan dengan layanan perpustakaan sekolah, layanan prima dapat diartikan sebagai pengelolaan perpustakaan yang dilakukan secara professional.


DAFTAR PUSTAKA

Bafadal, Ibrahim. 2011. Pengelolaan Perpusataakan Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara

Darmono.2001. Manajemen Perpustakaan. Jakarta : Grasindo

Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Jafar, Farida. 2005.  Manajemen  Jasa : Pendekatan Terpadu. Jakarta:  Ghalia Indonesia.

Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran di Indonesia: Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Pengendalian. Jakarta : Salemba Empat.

Kennedy, Declan. 2007. Writing and Using Learning Outcomes. Italy. University College Cork UCC.

Lupiyoadi, Rambat dan A. Hamdani, 2006.  Manajemen Pemasaran Jasa, edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.

Prasetyono, Dwi Sunar. 2008. Rahasia Mengajarkan Gemar Membaca pada Anak Sejak Dini. Yogyakarata: Think

Tjiptono, Fandy.  2008. Strategi Bisnis. Yogyakarta : Andi.

Yusuf, M, Pawit dan Suhendar, Yaya dan 2007. Pedoman Penyelanggaraan Perpustakaan sekolah. Jakarta : Kencana Prenada MediaGroup.










= Baca Juga =



Blog, Updated at: 12:36:00 AM

11 komentar:

  1. Terima kasih, infonya sangat bermanfaat. Keren abiiiiiiizzzzzzzzzzzz

    ReplyDelete
  2. Ini tambahan materi tentang Tugas Pustakawan sekolah. Pustakawan sekolah diharapkan mampu melakukan tugas berikut:
    • menganalisis sumber dan kebutuhan informasi komunitas sekolah
    • memformulasi dan mengimplementasi kebijakan pengembangan jasa
    • mengembangkan kebijakan dan sistim pengadaan sumberdaya perpustakaan
    • mengkatalog dan mengklasifikasi materi perpustakaan
    • melatih cara penggunaan perpustakaan
    • melatih pengetahuan dan keterampilan informasi
    • membantu murid dan guru mengenai penggunaan sumberdaya perpustakaan dan teknologi informasi • menjawab pertanyaan referensi dan informasi dengan menggunakan berbagai materi yang tepat
    • mempromosikan program membaca dan kegiatan budaya
    • ikut serta dalam kegiatan perencanaan terkait dengan implementasi kurikulum
    • ikut serta dalam persiapan, implementasi dan evaluasi aktivitas pembelajaran
    • mempromosikan evaluasi jasa perpustakaan sebagai bagian dari sistem evaluasi sekolah secara menyeluruh
    • membangun kemitraan dengan organisasi di luar sekolah
    • merancang dan mengimplementasi anggaran
    • mendisain perencanaan strategis
    • mengelola dan melatih tenaga perpustakaan

    ReplyDelete
  3. Ini Contoh Tata Tertib Perpustakaan
    SYARAT KEANGGOTAAN
    Yang berhak menjadi anggota perpustakaan adalah semua masyarakat Kabupaten Lamongan yang telah mendaftarkan diri sebagai anggota perpustakaan.
    Mengisi formulir yang sudah disediakan oleh perpustakaan.
    Menyerahkan 2 (dua) lembar pas photo berukuran 3×3 dan foto kopi KTP 1 lembar

    PERATURAN UMUM
    Anggota/pengunjung perpustakaan harus berpakian rapi dan sopan
    Anggota/pengunjung perpustakaan harus menitipkan tas, map, buku pribadi di tempat penitipan.
    Anggota/pengunjung perpustakaan harus mengisi buku kunjungan yang tersedia
    Anggota/pengunjung perpustakaan harus menjaga ketenangan, ketertiban, selama berada di ruang perpustakaan.
    Bahan pustaka yang telah diambil dari rak agar tetap diletakan di meja baca.
    Koleksi buku khusus dan referensi hanya untuk dibaca di tempat.
    Bagi pengunjung yang ingin mem-foto kopi bahan pustaka diluar area perpustakaan diwajibkan mengisi buku pinjam, meninggalkan kartu anggota/KTP, dan bahan pustaka dikembalikan pada hari yang sama.
    Pengunjung tidak dikenai biaya apapun memasuki area perpustakaan


    PERATURAN LAYANAN SIRKULASI
    A.Jam Layanan
    Senin – Kamis : 07.00 – 16.00 wib
    Jum’at : 07.00 – 14.30 wib
    Sabtu – Minggu : 08.00 – 14.00 wib

    B. Layanan Sirkulasi
    Setiap anggota perpustakaan berhak meminjam buku sebanyak-banyak 2 eksemplar dengan jangka waktu 2 minggu,
    Perpanjangan waktu pinjam harus membawa buku dan jangka waktu 1 kali selama 2 minggu

    PELANGGARAN DAN SANKSI
    Anggota/pengunjung perpustakaan yang terbukti melanggar peraturan dan tata tertib yang berlaku akan dikenakan sanksi berupa, denda, teguran lisan, teguran tertulis, skorsing peminjaman, hingga dikeluarkan dari keanggotaan perpustakaan.
    Berikut ini jenis pelanggaran :
    Anggota/pengunjung yang merusak, menghilangkan, atau mencoret-coret bahan pustaka, harus mengganti dengan buku baru yang sama,
    Anggota/pengunjung perpustakaan yang terlambat mengembalikan buku-buku(sirkulasi) diberikan sanksi sesuai ketentuan yang diberlakukan
    Anggota/pengunjung perpustakaan yang terlambat mengembalikan bahan pustaka yang di foto copy dikenakan denda sesuai ketentuan yang diberlakukan
    Adapun pelanggaran yang tidak diatur dalam tata tertib ini, akan diatur melalui kebijakan kepala perpustakaan.

    LARANGAN
    Anggota/pengunjung perpustakaan dilarang melakukan ha-hal sebagai berikut :
    Merusak, merobek, mencoret, mengotori buku-buku/koleksi ataupun peralatan di perpustakaan
    Membawa buku keluar tanpa melalui proses peminjaman
    Membawa barang pribadi (buku,tas dll.) kedalam ruang koleksi perpustakaan
    Menyimpan barang berharga di rak penitipan tas
    Membawa senjata tajam dan benda lainnya yang membahayakan keamanan orang lain ke dalam ruangan perpustakaan.
    Memotret / shooting di dalam ruangan perpustakaan.
    Makan,minum, dan membuang sampah sembarangan di perpustakaan
    Berbicara keras, diskusi diruang baca dan membuat kegaduhan sehingga mengganggu pengunjung lain.

    ReplyDelete
  4. Terima kasih infonya sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  5. Infonya keren dan sangat bermnafaat, Thanks gan.

    ReplyDelete
  6. Artiklenya sangat menarik dan bermanfaat. Trimks sobat

    ReplyDelete
  7. Mestinya setiap sekolah memiliki ruang dan buku perpusatkaan yang lengkap

    ReplyDelete
  8. Memang seharusnya setiap sekolah memiliki ruang perpustakaan sekolah yang memadai dan buku referensi yang lengkap. Itulah sebabnya sebagian dana BOS wajib dialokasikan untuk perpustakaan sekolah

    ReplyDelete
  9. ok , the information is very useful

    ReplyDelete

---------------------------------

---------------------------------


Tanggal dan Waktu Saat Ini (Online)

---------------------------------

Statistik Pengunjung

---------------------------------

---------------------------------

Followers

----------------------------------

---------------------------------

CB