SUPERVISI MANAJERIAL

Posted by PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN on Thursday, February 4, 2016

1. Pengertian Supervisi Manajerial
Supervisi adalah  kegiatan  professional yang  dilakukan  oleh  pengawas sekolah  dalam  rangka  membantu  kepala  Sekolah,  guru  dan  tenaga kependidikan  lainnya  guna  meningkatkan  mutu  dan  efektivitas penyelenggaraan  pendidikan  dan  pembelajaran. Supervisi  ditujukan  pada  dua aspek  yakni: manajerial  dan  akademik. Supervisi  manajerial  menitik beratkan pada  pengamatan  pada  aspek-aspek  pengelolaan  dan  administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung (supporting) terlaksananya pembelajaran. 






Dalam Panduan Pelaksanaan Tugas Pengawas Sekolah/Madrasah (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2009: 20) dinyatakan bahwa supervisi manajerial adalah supervisi  yang  berkenaan  dengan  aspek  pengelolaan Sekolah  yang  terkait langsung dengan peningkatan efisiensi dan efektivitas Sekolah yang mencakup perencanaan,  koordinasi,  pelaksanaan,  penilaian,  pengembangan  ompetensi sumberdaya  manusia  (SDM)  kependidikan  dan  sumberdaya  lainnya.  Dalam melaksanakan  fungsi  supervisi  manajerial,  pengawas Sekolah/madrasah berperan  sebagai:  (1)  kolaborator  dan  negosiator  dalam  proses  perencanaan, koordinasi,  pengembangan  manajemen  Sekolah,  (2)  asesor  dalam mengidentifikasi  kelemahan  dan  menganalisis  potensi Sekolah,  (3)  pusat informasi  pengembangan  mutu  Sekolah,  dan  (4)  evaluator  terhadap pemaknaan hasil pengawasan.

2.  Prinsip-Prinsip, Metode dan Teknik  Supervisi Manajerial
1).  Prinsip-Prinsip Supervisi Manajerial
Prinsip-prinsip  supervisi  manajerial  pada  hakikatnya  tidak  berbeda dengan supervisi akademik, yaitu:

a. harus menjauhkan diri dari sifat otoriter, seperti ia bertindak sebagai atasan dan kepala Sekolah/guru sebagai bawahan.

b. Supervisi  harus  mampu  menciptakan  hubungan  kemanusiaan  yang harmonis. Hubungan  kemanusiaan  yang diciptakan  harus  bersifat terbuka, kesetiakawanan, dan informal (Dodd, 1972).

c.  Supervisi  harus  dilakukan  secara  berkesinambungan.  Supervisi bukan  tugas  bersifat  sambilan  yang  hanya  dilakukan  sewaktu-waktu  jika  ada  kesempatan (Alfonso  dkk.,  1981  dan  Weingartner, 1973). 

d.  Supervisi  harus  demokratis.  Supervisor  tidak  boleh  mendominasi pelaksanaan supervisi. Titik tekan supervisi yang demokratis adalah aktif dan kooperatif. 

e.  Program  supervisi  harus  integral.  .  Di  dalam  setiap  organisasi pendidikan  terdapat  bermacam-macam  sistem  perilaku  dengan tujuan sama, yaitu tujuan pendidikan (Alfonso, dkk., 1981). 

f.  Supervisi  harus  komprehensif.  Program  supervisi  harus  mencakup keseluruhan  aspek,  karena  hakikatnya  suatu  aspek  pasti  terkait dengan aspek lainnya. 

g.  Supervisi  harus  konstruktif.  Supervisi  bukanlah  sekali-kali  untuk mencari kesalahan-kesalahan kepala Sekolah/ guru. 

h.  Supervisi  harus  obyektif.  Dalam  menyusun,  melaksanakan,  dan mengevaluasi,  keberhasilan  program  supervisi  harus  obyektif. Obyektivitas  dalam  penyusunan  program  berarti  bahwa  program supervisi    itu harus  disusun  berdasarkan  persoalan  dan  kebutuhan nyata yang dihadapi Sekolah. 


2).  Metode dan Teknik  Supervisi Manajerial
Berikut  ini  akan  diuraikan  tentang  beberapa  metode  supervisi manajerial,  yaitu:  monitoring  dan  evaluasi,  refleksi  dan FGD,  metode Delphi, dan Workshop.

a.  Monitoring dan Evaluasi
Metode  utama  yang   harus  dilakukan  oleh  pengawas Sekolah dalam supervisi manajerial adalah monitoring dan evaluasi. 

1). Monitoring
Monitoring  adalah  suatu  kegiatan untuk  mengetahui perkembangan pelaksanaan  penyelenggaraan Sekolah,  apakah  sudah  sesuai  dengan rencana,  program,  dan/atau  standar  yang  telah  ditetapkan,  serta menemukan hambatan-hambatan yang harus diatasi dalam pelaksanaan program  (Rochiat,  2008:  115).  Monitoring  lebih  berpusat  pada pengontrolan  selama  program  berjalan  dan lebih  bersifat  klinis.  Melalui monitoring,  dapat  diperoleh  umpan  balik  bagi Sekolah atau  pihak  lain yang  terkait  untuk  menyukseskan  ketercapaian  tujuan.  Aspek-aspek yang dicermati dalam  monitoring adalah hal-hal yang dikembangan dan dijalankan  dalam  Rencana  Pengembangan  Sekolah  (RPS).  Dalam melakukan  monitoring  ini  tentunya  pengawas  harus  melengkapi  diri dengan  parangkat  atau  daftar  isian  yang  memuat  seluruh  indikator sekolah yang harus diamati dan dinilai. 

2). Evaluasi
Kegiatan  evaluasi  untuk  mengetahui  sejauhmana  kesuksesan pelaksanaan  penyelenggaraan  sekolah  atau  sejauhmana  keberhasilan  yang telah  dicapai  dalam  kurun  waktu  tertentu.  Tujuan  evaluasi  utamanya  adalah untuk 
(a)  mengetahui  tingkat  keterlaksanaan  program, 
(b)  mengetahui keberhasilan  program,
(c)  mendapatkan  bahan/masukan  dalam  perencanaan tahun  berikutnya,  dan 
(d)  memberikan  penilaian  (judgement)  terhadap Sekolah.

b. Diskusi Kelompok Terfokus (Focused Group Discussion)
Hasil  monitoring  yang  dilakukan  pengawas  hendaknya  disampaikan secara terbuka kepada pihak Sekolah, terutama kepala Sekolah, komite Sekolah dan  guru.  Secara  bersama-sama  pihak  Sekolah  dapat  melakukan  refleksi terhadap  data  yang  ada,  dan  menemukan  sendiri  faktor-faktor  penghambat serta  pendukung  yang  selama  ini  mereka  rasakan.  Forum  untuk  ini  dapat berbentuk   Focused  Group  Discussion  (FGD),  yang  melibatkan  unsur-unsur stakeholder  Sekolah.  Diskusi  kelompok  terfokus  ini  dapat  dilakukan  dalam beberapa  putaran  sesuai  dengan  kebutuhan.  Tujuan FGD  adalah  untuk menyatukan sudut  pandang stakeholder mengenai  realitas  kondisi  (kekuatan dan kelemahan) sekolah, serta menentukan  langkah-langkah strategis maupun operasional  yang  akan  diambil  untuk  memajukan sekolah.  Peran  pengawas dalam  hal  ini  adalah  sebagai  fasilitator  sekaligus  menjadi  narasumber  apabila diperlukan,  untuk  memberikan  masukan  berdasarkan  pengetahuan  dan pengalamannya. 

Agar FGD dapat  berjalan  efektif,  maka  diperlukan  langkah-langkah  sebagai berikut:
1)  Sebelum FGD dilaksanakan, semua peserta sudah mengetahui maksud diskusi serta permasalahan yang akan dibahas.
2)  Peserta FGD  hendaknya  mewakili  berbagai  unsur,  sehingga  diperoleh pibu/bapangan yang berragam dan komprehensif.
3)  Pimpinan  FGD  hendaknya  akomodatif  dan  berusaha  menggali pikiran/ibu/bapak peserta dari sudut pandang  masing-masing unsur. 
4)  Notulen  hendaknya  benar-benar  teliti  dalam  mendokumentasikan usulan atau sudut pandang semua pihak.
5)  Pimpinan FGD hendaknya  mampu  mengontrol  waktu  secara  efektif, dan mengarahkan pembicaraan agar tetap fokus  pada permasalahan.
6)  Apabila  dalam  satu pertemuan  belum  diperoleh  kesimpulan  atau kesepakatan, maka dapat dilanjutkan pada putaran berikutnya. Untuk ini  diperlukan  catatan  mengenai  hal-hal  yang  telah  dan  belum disepakati.

c. Metode Delphi
Metode Delphi dapat  digunakan  oleh  pengawas  dalam  membantu  pihak Sekolah merumuskan  visi,  misi  dan  tujuannya.  Sesuai  dengan  konsep  MBS. Dalam  merumuskan  Rencana  Pengembangan Sekolah (RPS)  sebuah sekolah harus memiliki rumusan visi, misi dan tujuan yang jelas dan realistis yang digali dari  kondisi sekolah,  peserta  didik,  potensi  daerah,  serta  pibu/bapangan seluruh stakeholder. 

Metode Delphi dapat disampaikan oleh pengawas kepada kepala sekolah ketika  hendak  mengambil  keputusan  yang  melibatkan  banyak  pihak. Langkah-langkahnya menurut Gordon (1976: 26-27) adalah sebagai:
1).  Mengidentifikasi individu atau pihak-pihak yang dianggap memahami persoalan  dan  hendak  dimintai  pendapatnya  mengenai pengembangan Sekolah;
2).  Masing-masing  pihak  diminta  mengajukan  pendapatnya  secara tertulis tanpa disertai nama/identitas;
3).  Mengumpulkan  pendapat  yang  masuk,  dan  membuat  daftar urutannya sesuai dengan jumlah orang yang berpendapat sama.
4).  Menyampaikan kembali daftar rumusan pendapat dari berbagai pihak tersebut untuk diberikan urutan prioritasnya.
5).  Mengumpulkan  kembali  urutan  prioritas  menurut  peserta,  dan menyampaikan  hasil  akhir  prioritas  keputusan  dari  seluruh  peserta yang dimintai pendapatnya. 

d.  Workshop
Workshop  atau  lokakarya  merupakan  salah  satu    metode  yang  dapat ditempuh pengawas dalam melakukan supervisi manajerial. Metode ini tentunya bersifat kelompok dan dapat melibatkan beberapa kepala Sekolah, wakil kepala Sekolah dan/atau  perwakilan  komite sekolah.  Penyelenggaraan  workshop  ini tentu  disesuaikan  dengan  tujuan  atau  urgensinya,  dan  dapat  diselenggarakan bersama  dengan  Kelompok  Kerja  Kepala Sekolah,  Kelompok  Kerja  Pengawas Sekolah  atau  organisasi  sejenis  lainnya.    Sebagai  contoh,  pengawas  dapat mengambil inisiatif untuk mengadakan workshop tentang pengembangan KTSP, sistem administrasi, peran serta masyarakat, sistem penilaian dan sebagainya.

Agar  pelaksanaan workshop berjalan  efektif,  perlu  dilakukan  langkah-langkah sebagai berikut.
a. Menentukan  materi  atau  substansi  yang  akan  dibahas  dalam workshop.Materi  workshop  biasanya  terkait  dengan  sesuatu  yang  bersifat praktis,  walaupun  tidak  terlepas  dari  kajian  teori  yang  diperlukan sebagai acuannya.
b. Menentukan  peserta.  Peserta  workshop  hendaknya  mereka  yang  terkait dengan materi yang dibahas.
c. Menentukan  penyaji  yang  membawakan  kertas  kerja.  Kriteria  penyaji workshop antara lain:
1)  Seorang praktisi yang benar-benar melakukan hal yang dibahas.
2)  Memiliki pemahaman dan ibu/bapak teori yang memadai.
3) Memiliki  kemampuan  menulis  kertas  kerja,  disertai  contoh-contoh praktisnya.
4)  Memiliki kemampuan presentasi yang baik.
5) Memiliki kemampuan untuk memfasilitasi/membimbing peserta. d.  Mengalokasikan waktu yang cukup.








e.  Mempersiapkan sarana dan fasilitas yang memadai.
Dalam pelaksanaan supervisi manajerial, pengawas dapat menerapkan teknik supervisi  individual  dan  kelompok.  Teknik  supervisi  individual  di  sini  adalah pelaksanaan  supervisi  yang  diberikan  kepada  kepala Sekolah  atau  personil lainnya yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan.  Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Kepala-kepala sekolah yang diduga, sesuai  dengan  analisis  kebutuhan,  memiliki  masalah  atau  kebutuhan  atau kelemahan-kelemahan  yang  sama  dikelompokkan  atau  dikumpulkan  menjadi satu/bersama-sama.  Kemudian  kepada  mereka  diberikan  layanan  supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka hadapi.



= Baca Juga =



Blog, Updated at: 10:45:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

---------------------------------

---------------------------------


Tanggal dan Waktu Saat Ini (Online)

---------------------------------

Statistik Pengunjung

---------------------------------

---------------------------------

Followers

----------------------------------

---------------------------------

CB