BAHAYANYA GAME YANG MENGANDUNG KEKERASAN BAGI ANAK

Posted by PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN on Thursday, April 21, 2016

Penelitian Iowa State University Amerika Serikat menunjukkan, bermain game yang mengandung kekerasan selama 20 menit saja dapat "mematikan rasa". 

Menurut Direktur Indonesia Heritage Foundation, Wahyu Farrah Dina, anak akan mudah melakukan kekerasan dan kehilangan empati kepada orang lain.






Wahyu menjelaskan, saat ini banyak permainan di Play Station (PS) atau game online atau dalam jaringan (daring) di internet yang mengandung kekerasan. 

"Dan sayangnya permainan ini kian menyebar dengan maraknya penyewaan PS dan menyebarnya warung internet (warnet)," kata Wahyu seperti dikutip laman sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id, Ahad (17/4).

Agar tidak tercandu game berbahaya, Wahyu memberikan tips untuk menanganinya. Pertama, orang tua perlu menyusun jadwal aktivitas anak pengganti game seperti olahraga, seni dan sebagainya. Selanjutnya orang tua harus mengupayakan menjauhkan anak dari peralatan dan piranti lunak (software) game secara bertahap. 

Kemudian meletakan PS, komputer atau perangkat game lainnya di ruang terbuka. Dengan kata lain, tidak diletakkan di kamar anak. Selain itu, orang tua juga seharusnya tidak mengenalkan game kepada anak di bawah usia 8 tahun, kecuali game edukatif. 

Adapaun daftar Game yang mengandung kekerasan dan berbahaya untuk anak adalah sebagai berikut:
World of Warcraft
Grand Theft Auto (GTA)
Call of Duty
Point Blank
Cross Fire
War Rock
Counter Strike
Mortal Combat
Future Cop
Carmageddon
Shelshock
Raising Force
Atlantica
Conflict Vietnam
Bully

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD Dikmas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Harris Iskandar, mengatakan cukup sulit bagi pemerintah membatasi peredaran game anak yang mengandung kekerasan. Pemerintah belum memiliki rencana membentuk lembaga sensor game dalam waktu dekat.

“Kalau bentuk lembaga sensor game, belum. Game seperti ini sulit dibatasi peredarannya. Artinya, satu situs kita blokir, nanti muncul situs lainnya yang mengunggah konten sejenis,” ungkap Harris ketika dikonfirmasi Republika, Rabu (20/3). 

Karena itu, menurutnya peran kedua orangtua lebih efektif untuk membatasi dampak buruk game kepada anak-anaknya. Haris menyarankan, orangtua lebih membuka komunikasi kepada anak-anaknya untuk memberikan informasi mana game yang boleh dan tidak boleh dimainkan.

Jika perlu, lanjut dia, ayah dan ibu di rumah bisa ikut terlibat langsung saat anak bermain game. “Dengan terlibat langsung, orangtua bisa memberi beberapa arahan tentang sisi negatif yang harus dihindari juga pembatasan waktu bermain game,” tutur Harris.

Dia kembali mengingatkan dua hal yang perlu diwaspadai akibatgame berkonten kekerasan. Pertama, katanya, kekerasan yang mengaburkan sisi kemanusiaan. Kedua, konten pornografi dalamgame tersebut.

Disinggung tentang program jangka panjang untuk mengatasi dampak game, pihaknya menyatakan akan mendorong sikap pembelajar kepada orangtua. Orangtua disarankan terus mencari informasi terkait pola asuh ideal untuk anak, salah satunya lewat laman sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id.


Sumber: http://www.republika.co.id/





= Baca Juga =



Blog, Updated at: 10:09:00 PM

1 komentar:

---------------------------------

---------------------------------


Tanggal dan Waktu Saat Ini (Online)

---------------------------------

Statistik Pengunjung

---------------------------------

---------------------------------

Followers

----------------------------------

---------------------------------

CB