===========================================

PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING )

Posted by PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN on Monday, April 30, 2018

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

Pengertian Pembelajaran Kooperatif dapat dipahami dari arti kata kooperatif yang mempunyai arti “bersifat kerja sama” atau “bersedia membantu” (Depdiknas, 2008). Jadi pengertian Pembelajaran Kooperatif merupakan suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil (umumnya terdiri dari 4-5 orang siswa) dengan keang -gotaan yang heterogen (tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan suku/ras berbeda) (Arends, 2012). Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Oleh karena itu, Pembelajaran Kooperatif perlu dikembangkan karena pada saat penerapan Pembelajaran Koo -peratif siswa berlatih berbagai keterampilan kooperatif (keterampilan sosial) sesuai dengan tuntutan kompetensi pada Kurikulum 2013 yaitu kompetensi sikap sosial, selain kompetensi sikap spiritual, pengetahuan, dan keterampilan.


Pembelajaran Kooperatif dapat disebut juga sebagai metode atau model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning yakni strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada pengelompokan siswa dengan tingkat kemampuan akademik yang berbeda kedalam kelompok-kelompok kecil (Saptono, 2003:32). Kepada siswa diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, seperti menjelaskan kepada teman sekelompoknya, menghargai pendapat teman, berdiskusi dengan teratur, siswa yang pandai membantu yang lebih lemah, dan sebagainya.

Strategi pembelajaran dengan kooperatif learning dipakai karena untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang arti pentingnya kerjasama kelompok namun tetap memperhatikan terhadap usaha individual. Hal ini sesuai dengan sifat dan kodrat manusia sebagai mahkluk sosial. Selain itu bila dikaitkan dengan profesi dalam bidang teknologi informasi yang sering bekerja secara kelompok atau tim. Oleh karena  itu perlu kiranya dalam pembelajaran diberikan pemahaman tentang arti pentingnya kerjasama dan sama kerja dalam kelompok.


============================================




============================================

Agar Pembelajaran Kooperatif terlaksana dengan baik, siswa harus diberi lem -bar kegiatan (LK), yang dapat berisi pertanyaan atau tugas yang direnca -nakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok berlangsung, tugas ang -gota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan guru dan saling membantu teman sekelompok mencapai ketuntasan materi.


Pembelajaran Kooperatif memiliki lima variasi model yang dapat diterapkan, yaitu, yaitu  Student Teams Achievement Divisions (STAD), Jigsaw ,  Group Investigation ,  Think Pair Share,  Numbered Heads Together (Arends, 2012). Penjelasan lebih lanjut variasi-variasi model tersebut diuraikan pada bagian selanjutnya dalam panduan ini.

Ada 5 prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif atau Cooperative Learning yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antar anggota, (5) evaluasi proses kelompok (Lie, 2002). Menuntut kerjasama siswa dan saling ketergantungan dalam struktur tugas, tujuan, dan hadiah. Struktur Tugas, siswa melakukan kegiatan secara bersama-sama (kerjasama dan sama kerja). Struktur Tujuan, tiap-tiap individu ikut andil menyumbang dalam pencapai tujuan. Struktur Hadiah, keberhasilan individu adalah atas usaha secara bersama-sama.


B. Landasan Teoritis dan Empirik Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

John Dewey 1916, Democracy and Education.
  1. Kelas merupakan cermin masyarakat tempat untuk belajar kehidupan nyata.
  2. Guru menciptakan lingkungan belajar dengan prosedur demokrasi dan ilmiah.
  3. Memotivasi siswa untuk belajar secara kooperatif.
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING )
Herbert Thelen 1954, 1969.
  1. Mengembangkan pembelajaran agar siswa belajar secara kelompok.
  2. Kelas mmerupakan laboratorium untuk mengkaji masalah sosial dan antar pribadi.

Gordon Allport
  1. Kontak langsung antar etnik.
  2. Berperan dalam kelompok dalam seting tertentu.
  3. Setting itu mendapatkan persetujuan antar etnik.

  1. Melaporkan 45 penelitian tentang pembelajaran kooperatif dan pengaruhnya terhadap hasil belajar.
  2. Studi ini meliputi semua kelas dan bidang studi bahasa, geografi, ilmu sosial, sains, matematika, membaca dan menulis.
  3. Lokasi penelitian di Israel, Nigeria, Jerman, dan USA.
  4. Hasilnya 37 di antaranya menunjukkan hasil yang signifikan, 8 tidak ada perbedaan, dan tidak satupun menunjukkan pengaruh yang negatif.
Lundgren 1994
  1. Memberikan dampak kepada siswa yang berkemampuan kurang.
  2. Memberikan motivasi kepada siswa yang lain.
Mohamad Nur 1997
  1. Meningkatkan pencurahan waktu dan tugas.
  2. Memperbaiki kehadiran.
  3. Pemerimaan perbedaan individu menjadi lebih besar.
  4. Perilaku penganggu menjadi lebih kecil.
  5. Konflik antar pribadi menjadi berkurang.
  6. Sikap apatis berkurang.
Harmanto 2004 (di Perguruan Tinggi/mahasiswa program studi PKn)
  1. Menyenangkan
  2. Tingkat kelulusan tinggi (98%)

C.  Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif
Ada lima prinsip Pembelajaran Kooperatif, yang diuraikan sebagai berikut.
·          Saling ketergantungan positif, yaitu siswa saling berkaitan dengan siswa lain dalam kelompoknya untuk mencapai suatu tujuan. Pencapaian tujuan dicapai melalui upaya bersama berdasarkan prinsip “saya memerlukan kamu dan kamu memerlukan saya untuk bisa mencapai tujuan”. Siswa berbagi peran dan tugas, satu sama lain saling bergantung, dan keberhasilan seseorang akan menentukan keberhasilan siswa lainnya.
·          Akuntabilitas     individual,    yaitu  siswa          belajar        bersama,  tetapi     setiap individu dituntut untuk mempertanggungjawabkan hasil belajarnya. Ini berarti satu upaya dari seorang siswa akan mempengaruhi upaya siswa lain. Setiap tujuan pembelajaran harus jelas dan dapat dipahami siswa serta ada keyakinan bahwa siswa akan mampu melakukannya. Ketika siswa berhasil mencapai tujuan secara berkelompok, siswa juga berhasil secara individual.
·          Interaksi promotif  di  antara sesama siswa, yaitu kegiatan kognitif dan interpersonal siswa secara dinamis terjadi karena setiap siswa mendorong siswa lainnya untuk belajar. Contoh kegiatan tersebut adalah penjelasan bagaimana memecahkan masalah, mendiskusikannya, dan menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang baru didapat. Ini terjadi bilamana interaksi promotif sesama siswa terbangun dan dijadikan komitmen untuk meraih pencapaian tujuan bersama.
·           Keterampilan   kolaboratif    adalah keterampilan siswa dalam mendengar siswa lain, memecahkan konflik, mendukung dan memotivasi siswa lain, mengambil inisiatif, menunjukkan ekspresi senang manakala siswa lain berhasil, dan mampu mengkritisi ide gagasan siswa lain (bukan mengkritisi orangnya). Keterampilan seperti ini perlu ditunjukkan oleh siswa secara kolaboratif. Guru perlu membuat pernyataan verbal secara jelas, menjadi model, dan mengecek pemahaman siswa melalui berbagai pertanyaan.
·           Dinamika kelompok merupakan   tingkah laku sebagai bentuk interaksi antar anggota kelompok, pemimpin kelompok,  dan antar kelompok satu dengan yang lain.  Kekuatan yang muncul dari dinamika kelompok adalah membentuk kerjasama yang saling menguntungkan dalam mengatasi permasalahan hidup, menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan masyarakat dengan memungkinkan setiap individu memberikan masukan, berinteraksi, dan memiliki peran yang sama dalam masyarakat.

D. Unsur-unsur dan Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

Menurut Lie (2002) ada Lima unsur Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning
  1. Saling ketergantungan positif.
  2. Tanggung jawab perseorangan
  3. Tatap muka
  4. Komunikasi antar anggota
  5. Evaluasi proses kelompok (Lie, 2002).
Sedangkan menurut Lundgren (Sukarmin, 2002:2), Unsur-unsur dasar yang perlu ditanamkan pada diri siswa agar Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning lebih efektif adalah sebagai berikut :
a) Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau  berenang bersama”
b) Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggung jawab terhadap diri sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c) Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.
d) Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya diantara anggota kelompok.
e) Para siswa akan diberikan suatu evaluasi atau penghargaan yang akanikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
f)  Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.   
g. Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Sementara itu, menurut Nur (2001:3) pembelajaran yang menggunakan model cooperative learning pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b) Kelompok dibentukdari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, bangsa, suku,dan jenis kelamin yang berbeda-beda.    
d) Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu.


E. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran Kooperatif sangat berbeda dengan jenis pembelajaran yang lain. Pembelajaran ini dikembangkan untuk mencapai paling sedikit tiga tujuan penting, yaitu (1) hasil belajar akademik, (2) toleransi dan penerimaan terhadap keragaman, dan (3) pengembangan keteram pilan sosial.

a. Hasil Belajar Akademik
Beberapa ahli (Slavin, 2009) berpendapat bahwa Pembelajaran Kooperatif unggul dalam membantu siswa memahami konsepkonsep yang sulit. Para pendukung Pembelajaran Kooperatif percaya bahwa struktur penghargaan kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugastugas akademik. Pembelajaran Kooperatif juga dapat mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Dalam banyak kasus, norma budaya anak muda sebenarnya tidak menyukai siswasiswa yang ingin menonjol secara akademik. Slavin dan pakar lain telah berusaha untuk mengubah norma ini melalui penggunaan Pembelajaran Koo peratif sehingga membuat prestasi tinggi dalam tugastugas akademik lebih dapat diterima.

Selain mengubah norma yang berhubungan dengan prestasi akademik, Pembelajaran Kooperatif dapat memberi keuntungan bagi siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menye lesaikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok atas akan menjadi tu tor bagi siswa kelompok bawah. Jadi, mereka yang di kelompok bawah memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang memiliki orien tasi dan bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atas akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi pela yanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ideide yang terdapat di dalam materi tertentu.

b. Toleransi dan Penerimaan terhadap Keragaman
Tujuan penting kedua dari Pembelajaran Kooperatif adalah toleran si dan penerimaan yang lebih luas terhadap keragaman siswa, seperti perbedaan ras, budaya, status sosial, atau kemampuannya. Pembelajaran Kooperatif memberikan kesempatan kepada siswa dengan latar be lakang dan kondisi yang beragam untuk bekerja secara interdependen (saling bergantung) pada tugas yang sama, melalui penggunaan struk tur penghargaan kooperatif, belajar untuk saling menghargai.

c. Pengembangan Keterampilan Sosial
Tujuan penting lain dari Pembelajaran Kooperatif adalah untuk melatihkan keterampilan sosial atau keterampilan kooperatif, terutama keterampilan kerjasama. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki saat hidup bermasyarakat di mana sebagian besar profesi dilakukan da lam organisasi yang saling bergantung satu sama lain dan masyarakat yang budayanya semakin beragam. Sementara itu, banyak pemuda dan orang dewasa kurang memiliki keterampilan sosial yang efektif. Kondisi ini dibuktikan dengan sering terjadinya pertikaian kecil antara indivi du yang dapat mengakibatkan tindak kekerasan atau betapa seringnya orang menyatakan ketidakpuasan pada saat diminta untuk bekerja da lam situasisituasi kooperatif.

Keterampilan kooperatif (keterampilan sosial) berfungsi untuk me lancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelom pok. Sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan. Sebagai suatu keterampilan belajar, keterampilan kooperatif ternyata memiliki tingkattingkat, yaitu tingkat awal, tingkat menengah, dan tingkat mahir (Lundgren, 1994). Dalam setiap tingkat terdapat beberapa keterampilan yang perlu dimiliki siswa agar dapat melaksanakan pembelajaran kooperatif dengan baik.

1) Keterampilan kooperatif tingkat awal
·          Menggunakan kesepakatan
·          Menghargai kontribusi
·          Menggunakan suara pelan
·          Mengambil giliran dan berbagi tugas
·          Berada dalam kelompok
·          Berada dalam tugas
·          Mendorong partisipasi
·          Mengundang orang lain untuk berbicara
·          Menyelesaikan tugas tepat pada waktunya
·          Menyebut nama dan memandang pembicara
·          Menghormati perbedaan individu

2) Keterampilan kooperatif tingkat menengah
·          Menunjukkan penghargaan dan simpati
·          Mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima
·          Mendengarkan dengan aktif
·          Bertanya
·          Mengatur dan mengorganisir
·          Menerima tanggung jawab
·          Tetap tenang/mengurangi ketegangan

3) Keterampilan kooperatif tingkat mahir
·          Memeriksa dengan cermat
·          Menanyakan kebenaran
·          Menetapkan tujuan
·          Berkompromi

Berdasarkan hasil penelitian (Slavin, 1995) Pembelajaran Kooperatif mempunyai manfaat antara lain: (1) meningkatkan pencurahan waktu pada tugas; (2) meningkatkan rasa harga diri; (3) memperbaiki sikap terhadap mata pelajaran, guru, dan sekolah; (4) memperbaiki kehadiran; (5) saling emahami adanya perbedaan individu; (6) mengurangi konflik antar pribadi; (7) mengurangi sikap apatis; (8) memperdalam pemahaman; (9) meningkatkan motivasi; (10) meningkatkan hasil bel ajar; dan (11) memperbesar retensi. Selain itu, Woolfolk (2010) menya takan bahwa pembelajaran kooperatif meningkatkan kemampuan me mandang dunia dari cara pandang orang lain, hubungan lebih baik an tara kelompok etnis yang berbeda di sekolah atau di kelas, rasa percaya diri, penerimaan yang lebih besar terhadap siswa cacat dan berkemam puan rendah. Interaksi dengan teman sebaya yang amat disukai siswa menjadi bagian dari proses belajar. Kebutuhan untuk diterima dalam kelompoknya cenderung lebih dipenuhi.



D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning
Adapun kelelihan model pembelajaran kooperatif adalah
a) memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan konsep sendiri dan cara memecahkan masalah,
b)memberikan kesempatan kepada siswa untuk menciptakan kreatifitas dalam melakukan komunikasi dengan teman sekelompoknya,
c) membiasakan siswa untuk bersikap terbuka namun tegas,
d) meningkatkan motivasi belajar siswa,
e) membantu guru dalam pencapaian tujuan pembelajar. Kare4na langkah-langkah pembelajaran kooperatif mudah diterapkan di sekolah,
f)  mendorong motivasi guru untuk menciptakan media pengajaran, karena media begitu penting dalam pembelajaran kooperatif.

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Sedangan kelemahan model pembelajaran kooperatif adalah  diperlukan waktu yang cukup lama untuk melakukan diskusi, seperti belajar kelompok biasa, siswa yang pandai menguasai jalannya   diskusi, sehingga siswa yang kurang pandai kurang kesempatan untuk   mengeluarkan pendapatnya, yang tidak terbiasa dengan belajar. Selian itu dalam penerapan model pembelajaran kooperatif, kelompok yang merasa asing dan sulit untuk bekerja sama.
Selain itu kelemahan lain penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning  yang sering muncu, yaitu:
a) Jika tidak ada bimbingan dari teman dan guru maka ada kalanya siswa yang selalu "pasrah".
b) Jika tidak ada mekanisme yang baik dalam proses akan ada sikap ketergantungan siswa.


MENCARI PASANGAN MERUPAKAN CONTOH PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF 

E. Teknik-Teknik dalam Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

Berikut ini teknik pembelajaran yang dapat mewakili Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

1. Student teams achievement division (STAD)
Langkah-langkah:
1) Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang.
2) Guru menyajikan materi pelajaran.
3) Guru memberi tugas untuk dikerjakan, anggota kelompok yang     mengetahui jawabannya memberikan penjelasan kepada anggota    kelompok.
4) Guru memberikan pertanyaan/kuis dan siswa menjawab pertanyaan/kuis dengan tidak saling membantu.
5) Pembahasan kuis
6) Kesimpulan

JIGSAW MERUPAKAN CONTOH PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING )


2. Jigsaw (model tim ahli)
Langkah-langkah:
1) Siswa dikelompokkan dengan anggota 4 orang
2) Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda
3) Anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama     membentuk kelompok baru (kelompok ahli)
4) Setelah kelomppok ahli berdiskusi, tiap anggota kembali kekelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok  tentang subbab yang mereka kuasai
5) Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
6) Pembahasan
7) Penutup

3. Group investivigation go a round
Langkah-langkah:
1) Membagi siswa kedalam kelompok kecil yang terdiri dari 5 siswa
2) Memberikan pertanyaan terbuka yang bersifat analitis
3) Mengajak setiap siswa untuk berpartisipasi dalam menjawab pertanyaan kelompoknya secara bergiliran searah jarum jam dalam kurun waktu yang disepakati.

4.Think pair and share
Langkah-langkah:
1) Guru menyampaikan inti materi
2) Siswa berdiskusi dengan teman sebelahnya tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
3) Guru memimpin pleno dan tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
4) Atas dasar hasil diskusi, guru mengarahkan pembicaraan pada    materi/permasalahan yang belum diungkap siswa
5) kesimpulan

5. Make a match (membuat pasangan)
Langkah-langkah:
1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep/topik yang cocok untuk sesi review (satu sisi kartu berupa kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban)
2) Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal  dari kartu yang dipegang.
3) Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan      kartunya (kartu soal/kartu jawaban)
4) Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu  diberi poin
5) Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat  kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya
6) Kesimpulan.

6. Mencari Pasangan
1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa topik atau reviev materi (tepat ketika menjelang tes).
2) Setiap siswa mendapat kartu.
3) Setiap siswa mencari kartu yang cocok dengan pasangannya. Misalnya "LIMA" maka pasangannya "PERU". "JAKARTA" -- "INDONESIA" dst.

a) Setiap siswa mendapatkan satu pasang.
b) Guru memberikan tugas dan siswa mengerja-kan  tugas dengan pasangannya.
c) Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan pasangan yang lain.
d) Kedua pasangan tersebut bertukar. Masing-masing pasangan yang baru akan bertukar informasi.
f) Temuan baru yang didapatkan dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.

KEPALA BERNOMOR MERUPAKAN CONTOH PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING )




8. Kepala Bernomor
a) Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
b) Guru memberikan tugas masing-masing kelompok mengerjakannya.
c) Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.
d) Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.

a) Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat
b) Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya untuk bergabung ke kelompok yang lain.
c)  Dua orang yang tinggal mempunyai tugas untuk memberi informasi kepada tamu.
d) Tamu akan kembali ke tempat semula untuk melaporkan hasil kunjungannya.
e) Kelompok akan membahasnya.

10. Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Chips
Talking adalah sebuah kata yang diambil dari bahasa inggris yang berarti berbicara, sedangkan chips yang berarti kartu. Jadi arti talking chips adalah kartu untuk berbicara. Sedangkan talking chips dalam pembelajaran kooperatif yaitu pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-5 orang, masing-masing anggota kelompok membawa sejumlah kartu yang berfungsi untuk menandai apabila mereka telah berpendapat dengan memasukkan kartu tersebut ke atas meja. Model pembelajaran talking chips atau kancing gemerincing merupakan salah satu model pembelajaran yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif.

Pembelajar kooperatif tipe talking chips pertama kali dikembangkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1992. Dalam kegiatan talking chips, masing-masing anggota kelompok mendapat kesempatan untuk memberikan kontruksi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota yang lain. Keunggulan lain dari teknik ini adalah untuk mengatasi hambatan pemerataan kesempatan yang sering mewarnai kerja kelompok. Sebagaimana dinyatakan Masitoh dan Laksmi Dewi dalam bukunya Strategi Pembelajar (2009:244) model pembelajaran talking chips merupakan model pemelajaran kancing gemerincing yang dikembangkan oleh Spender Kagan (1992).

Dalam pelaksanaan talking chips setiap anggota kelompok diberi sejumlah kartu atau “chips” (biasanya dua sampai tiga kartu). Setiap kali salah seorang anggota kelompok menyampaikan pendapat dalam diskusi, ia harus meletakan satu kartunya ditengah kelompok. Setiap anggota diperkenankan menambah pendapatnya sampai semua kartu yang dimilikinya habis. Jika kartu yang dimilikinya habis, ia tidak boleh berbicara lagi sampai semua anggota kelomoknya juga menghabiskan semua kartu mereka. Jika semua kartu telah habis, sedangkan tugas belum selesai, kelompok boleh mengambil kesempatan untuk membagi-bagi kartu lagi dan diskusi dapat diteruskan kembali (Kagan, 2000 : 47).

Langkah penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Talking Chips:
1) siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil sekitar 4-6 orang perkelompok.
2) kelompoknya para siswa diminta untuk mendiskusikan suatu masalah atau materi pelajaran.
3) Setiap kelompok diberi 4-5 kartu yang digunakan untuk siswa berbicara.
4) Setelah siswa mengemukakan pendapatnya, maka kartu disimpan di atas meja kelompoknya.
5) Proses dilanjutkan sampai seluruh siswa dapat menggunakan kartunya untuk berbicara.

Dalam cara lain, penggunaan kartu dapat diganti oleh benda-benda kecil lainnya yang dapat menarik perhatian siswa, misalnya kancing, kacang merah, biji kenari, potongan sedotan, batang-batang lidi, sendok es krim, dan lain-lain. Karena benda-benda tersebut berbunyi gemerincing, maka istilah untuk talking chips dapat disebut juga dengan “kancing gemerincing” (Lie, 2002 : 63).   

Adapun langkah-langkah pembelajaran adalah sbb
1) Guru menyiapkan kotak kecil yang berisikan kancing-kancing.
2) Setiap siswa dalam masing-masing kelompok mendapatkan dua atau tiga buah kancing
3) Setiap kali seorang siswa berbicara atau mengeluarkan pendapat ide harus menyerahkan salah satu kancingnya; 
4) Jika kancing yang dimiliki seorang siswa habis, dia tidak boleh berbicara lagi sampai semua rekannya juga menghabiskan kancing mereka.
5) Jika semua kancing sudah habis, sedangkan tugas belum selesai, kelompok boleh mengambil kesepakatan untuk membagi-bagi kancing lagi dan mengulangi prosedurnya kembali (Masitoh dan Laksmi Dewi. 2009:244)

Terima kasih Anda telah membaca artikel Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning semoga bermanfaat




= Baca Juga =



Blog, Updated at: 11:53:00 PM

6 comments:

  1. Dalam kurikulum 2013 kan hanya diperbolehkan 4 model pembelajaran, lalu bagaimana dengan model pembelajaran kooperatif apakah masih bisa diterapkan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Model pembelajaran kooperatif boleh digunakan dalam kurikulum 2013, meskipun dalam pelatihan hanya disampaikan model Inquiri, discovery, problem solving, dan proyek. Harus dipahami bahwa apa yang disampikan dalam pelatihan hanya sebagai bahan inspirasi, setiap guru boleh mengembangkannya. Sebagai contoh ketika kita menggunakan discovery, teknik-teknik yang digunakan dalam model pembelajaran kooeratif tetap bisa kita gunakan seperti jigaw, nht ,dll. Yang terpenting dalam K13 kita harus menggunakan pendekatan Saintifik sekalipun tidak mesti procedural.

      Delete
  2. Terima kasih telah berbagi pengetahuan

    ReplyDelete
  3. Makasih atas infonya, setahu saya apapun pendekatan atau model pembelajaran yang digunakan pembelajaran kooperatif akan selalu ada di dalamnya.

    ReplyDelete
  4. makasih infonya pak, tapi maaf sebelumnya boleh saya minta sumber bacaannya?

    ReplyDelete
  5. Postingnya sangat bermanfaat terima kasih. http://arenamodel.blogspot.com/

    ReplyDelete

Search Artikel

------------------------------------------


Statistik Blog

Followers

------------------------------------------

CB