TERORIS SIBER JILID 2 GUNCANG EROPA, AMERIKA SERIKAT DAN ASIA PASIFIK, INI HIMBAUAN PEMERINTAH

Posted by PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN on Rabu, 28 Juni 2017

Antispasi Teroris Siber Jilid 2
Jagat maya mancanegara kembali diguncang teroris siber jilid 2 dengan serangan Virus ransomware Wanna Cry baru yang dijuluki Petya atau Petwrap pada Selasa 27 Juni 2017. Menurut laporan, sejumlah perusahaan dan lembaga di berbagai belahan dunia menjadi sasaran serangan malware dan peretasan, serupa fenomena ransomware WannaCry yang melanda pada 12 Mei 2017 lalu.

Beberapa target serangan malware pada 27 Juni 2017 meliputi firma pemasaran asal Inggris Wire and Plastic Products (WPP), perusahaan migas Rusia Rosneft, perusahaan perkapalan Denmark Maersk, perusahaan farmasi Amerika Serikat Merck, dan -- yang terparah -- lembaga pemerintahan serta perbankan Ukraina. Demikian seperti dikutip dari CNN, Rabu (28/6/2017).

Perusahaan WPP, yang berkantor di London, agen iklan terbesar di dunia, adalah yang pertama melaporkan terjadinya serangan siber di Inggris. Semua staf diminta mematikan komputer mereka dan tidak menggunakan WiFi.

Pemerintah Ukraina juga terpukul. Pelayanan di bandara Kiev, bank nasional, supermarket bahkan sejumlah ATM offline

Di Norwegia, Rusia, Denmark dan Prancis juga mengonfirmasi masalah yang sama. Oleksandr Turchynov, kepala dewan keamanan nasional Ukraina, segera menunjuk ke arah Moskow. "Analisis pertama, mungkin ini 'sidik jari' Rusia," katanya.

Wakil Perdana Menteri Ukraina, Rozenko Pavlo, mengatakan semua komputer pemerintah telah menjadi korban virus tersebut.

Selain Serang Eropa, Ransomware Jilid 2 Juga dilaporkan Landa Asia Pasifik. Pada 27 Juni 2017, sebuah terminal kargo di sebuah pelabuhan yang biasa ramai di Mumbai, India, mendadak berhenti beraktivitas. Pada hari yang sama, di Tasmania, Australia, beberapa baris teks bernada mengancam tiba-tiba muncul di sebuah layar komputer di pabrik coklat di Tasmania.

Sementara itu, dalam kurun waktu yang berdekatan, pejabat sebuah kantor biro hukum multinasional di Negeri Kanguru mengimbau karyawannya agar berhenti menggunakan layanan surat elektronik untuk sementara waktu.

Gambar yang diunggah menunjukkan layar hitam yang dilapisi teks putih peringatan 'salah satu disk Anda berisi kesalahan dan perlu diperbaiki'.

Peretas juga memperingatkan untuk tidak mematikan komputer, jika tidak semua data akan hilang. "Serangan ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata Pavlo.

Layar lain dengan teks merah memperingatkan bahwa file di komputer telah dikunci dengan kode tertentu, dan hanya akan dirilis dengan pembayaran GBP 300 (setara Rp 5 miliar) lewat online Bitcoin ke akun anonym

Berikut himbauan Pencegahan Virus ransomware Wanna Cry baru Jenis Petya atau Petwrap di Indonesia

Lembaga Sandi Negara, melalui akun Twitter resminya, angkat suara soal serangan ransomware Petya. Dalam dua hari ini, ransomware Petya sedang menyerang sejumlah negara di dunia. Virus ini dikabarkan dapat melumpukan sistem perbankan, jaringan listrik, dan jaringan komunikasi.

"Ransomware Petya dikabarkan telah menyebar begitu cepat dan menginfeksi pengguna komputer di Eropa, seperti Rusia, Denmark, Ukraina, Spanyol, Prancis, Inggris, dan India," tulis akun resmi @Lemsaneg_RI, Rabu, 28 Juni 2017.

Lembaga Sandi Negara memberikan imbauan untuk menghindari teroris siber jilid 2  atau serangan ransomware Petya:

1. Ransomware Petya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menginfeksi komputer. Komputer seperti melakukan proses checking disk (CHKDSK), padahal saat inilah Petya mengenkripsi hard drive. Jika hal itu sudah terjadi, diimbau untuk segera matikan komputer Anda. Jangan lupa mengambil file-file penting dari komputer dengan LiveCD.

2. Ransomware Petya memanfaatkan celah pada Microsoft SMBv1. Pencegahannya dapat dilakukan dengan menginstal patch MS17-010 dan menonaktifkan fungsi SMBv1. Selain itu juga disarankan mengupdate signature antivirus. Karena beberapa produk antivirus dilaporkan telah dapat mengidentifikasi Petya.

3. Bagi admin sistem, diimbau agar jaringan network diperbarui. Kemudian pantau port service 139/445 firewall. Pencegahan dapat dilakukan dengan mematikan service jika terdapat aktivitas mencurigakan.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menyerukan agar masyarakat segera melidungi data-datanya, sebagai langkah antisipasi teroris siber jilid 2 atau serangan mirip WannaCry bernama Petya.

Petya, disebutkan para analis keamanan cyber, merupakan ransomware yang lebih berbahaya dibandingkan WannaCry. Seperti diketahui, WannaCry sendiri sempat membuat panik saat menyerang puluhan negara, termasuk Indonesia pada beberapa bulan lalu.

Menkominfo pun membagi cara-cara pengamanan data. Adapun langkah-langkahnya, kurang lebih sama dengan penanganan saat terjadi serangan WannaCry.

"Pertama, pengelola IT menonaktifkan atau mencabut jaringan lokal/LAN sementara sampai dipastikan semua aman. Kedua, back up data ke storage terpisah," ujarnya sambil menyertakan foto berupa imbauan Rabu (28/6/2017). 

Selain itu, untuk masyarakat umum, Rudiantara juga menginformasikan langkah-langkah sederhana mencegah terjadinya serangan ransomware yang punya nama lain NotPetya atau GoldenEye ini.


"Selalu back up data, gunakan sistem operasi orisinil dan update berkala, instal antivirus dan update berkala, serta gunakan password yang aman dan ganti berkala," tutupnya.

=====================================================




= Baca Juga =



Blog, Updated at: 21.03.00

0 komentar:

Posting Komentar

Search Artikel

-----------------------------------------

-----------------------------------------

Statistik Blog

Pengikut

---------------------------------------

CB