MODEL PEMBELAJARAN KONTEKTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)

Posted by Aina Mulyana Rabu, 07 Desember 2011 1 komentar
HAKIKAT PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka se­hari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Ques­tionin,g), mencmukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Conzmunity), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).

LIMA ELEMEN BELAJAR YANG KONSTRUKTIVISTIK
Menurut Zahorik (1995:14-22) ada lima elemen yang harus dperhatkan dalam praktek pembelajaran konstektuali
  1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge).
  2. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian mem­perhatikan detailnya.
  3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun (1) konsep sementara (hipotesis), (2) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu (3) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan.
  4. Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).
  5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.

PENERAPAN PEN DEKATAN KONTEKSTUAL DI KELAS
Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme (Constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning) masyarakat-belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan ketujuh kom­ponen tersebut dalam pembelajarannya. Dan, untuk melaksana­kan hal itu tidak sulit! CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya.
Penerapan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya adalah berikut ini.
  1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih ber­makna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkostruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru­nya!
  2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik!
  3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya!
  4. Ciptakan `masyarakat belajar' (belajar dalam kelompok­kelompok)!
  5. Hadirkan `model' sebagai contoh pembelajaran!
  6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan!
  7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara!
TUJUH KOMPONEN CTL
1.   KONSTRUKTIVISME
Constructivism (konstruktivisme) merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya didtperluas melalui konteks yang terbatas (sempit), dan tidak sekonyong-konyong.Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta­fakta, konsep, atau kaidah yang slap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemu­kan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide­ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, in­formasi itu menjadi milik mereka sendiri.

Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses `mengkonstruksi' bukan `menerima' pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru.
Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektivis, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivis, `strategi mem­peroleh' lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah menfasilitasi proses tersebut dengan:
(1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa, (2) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang sema­kin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru.Menurut Piaget, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-ma­sing berisi informasi bermakna yang berbeda­beda. Pengalaman sama bagi beberapa orang akan dimaknai berbeda-beda oleh masing­masing individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru dihubungkan dengan pengalaman-pangalaman sebelumnya
Duduk, berdiri, berjalan kesana kemari, mengamati, bertanya jawab & bekerja adalah ciri kelas CTL bungkan dengan kotak-kotak (struktur pengetahuan) dalam otak manusia tersebut. Struktur pengetahuan dikembangkan dalam otak manusia melalui dua cara, yaitu asimilasi atau akomodasi. Asimilasi maksudnya struktur pengetahuan baru dibuat atau dibangun atas dasar struktur pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi maksudnya struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung dan menyesuaikan dengan hadirnya pengalaman baru.
Lalu, bagaimanakah penerapannya di kelas? Bagaimanakah cara merealisasikannya pada kelas-kelas di sekoilah kilta.  Pada umumnya kita juga sudah menerapkan filosofi ini dalam pembelajaran sehari-hari, yaitu ketika kita merancang pembelajaran dalam bentuk siswa bekerja, praktek mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemonstrasikan, menciptakan ide, dan sebagainya.Mari kita kembangkan cara-cara tersebut lebih banyak dan lebih banyak lagi!

2.   MENEMUKAN (INQUIRY)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembela­jaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya. Topik mengenai adanya dua jenis binatang rnelata, sudah seharusnya ditemukan sendiri oleh siswa, bukan `menurut buku'.
Siklus inkuiri:
o Observasi (Observation)
o Bertanya (Questioning)
o Mengajukan dugaan (Hiphotesis)
o Pengumpulan data (Data gathering)
o Penyimpulan (Conclussion)

Apakah hanya pada pelajaran IPA inkuiri itu bias diterapkan? Jawabannya, tentu "Tidak!". Inkuiri dapat diterapkan pada semua bidang studi: bahasa Indonesia (menemukan cara menulis paragraph deskripsi yang indah); IPS (membuat sendiri bagan silsilah ra)*a-raja Majapahit); PPKN (menemukan perilaku baik dan perilaku buruk sebagai warga Negara). Kata kunci dari strategi unkuiri adalah `siswa menemukan sendiri'.
Langkah-langkah kegiatan menemukan (inkuiri):
(1)        Merumuskah masalah (dalam matapelajaran apapun)
Ø Bagaimanakah silsilah raja-raja Majapahit? (sejarah)
Ø Bagaimanakah cara melukiskan suasana menikmati ikan bakar di tepi pantai Kendari? (bahasa Indonesia)?
Ø  Ada berapa jenis tumbuhan menurut bentuk bijinya? (biologi)
Ø Kota mana saja yang termasuk kota besar di Indonesia? (geografi)
(2)     Mengamati atau melakukan observasi
Ø   Membaca buku atau sumber lain untuk mendapatkan informasi pendukung.
Ø  Mengamati clan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari sumber atau objek yang diamati
(3)     Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, clan karya lainnya
Ø  Siswa membuat peta kota-kota besar sendiri
Ø   Siswa membuat paragraf deskripsi sendiri.
Ø  Siswa membuat bagan silsilah raja-raja Majapahit sendiri
Ø   Siswa membuat penggolongan tumbuh-tumbuhan sendiri.
Ø  Siswa membuat essai atau usulan kepada Pemerintah tentang berbagai masalah di daerahnya sendiri. Dst.
(4)     Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien yang lain
Ø   Karya siswa disampaikan teman sekelas atau kepada orang banyak untuk mendapatkan masukan
Ø   Bertanya jawab dengan teman
Ø    Memunculkan ide-ide baru
Ø    Melakukan refleksi
Ø   Menempelkan gambar, karya tulis, peta, dan sejenisnya di dinding kelas, dinding sekolah, majalah dinding, majalah sekolah, dsb.

3.   BERTANYA ( QUESTlONlNGj
Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari `bertanya'. Sebelum tahu kota Palu, seseor ng bertanya "Mana arah ke kota Palu?" Questioning (bertanya) merupakaan strategi
Bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.
Karya siswa di pajang di dinding-dinding, lorong-lorong, dan dimana saja di sekolah Pada semua aktivitas belajar, questioning dapat diterapkan: antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas, dsb utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pem­belajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksana­kan pembelajaran yang berbasis inquiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk
(1)    menggali informasi, balk administrasi maupun akademis
(2)   mengecek pemahaman siswa
(3)  membangkitkan respon kepada siswa
(4)  mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa
(5)  mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siwa
(6)  menfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
(7) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
Bagaimanakah penerapannya di kelas? Hampir pada semua aktivitas belajar, questioning dapat diterapkan: antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas, dsb. Aktivitas bertanya juga ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati, dsb. Kegiatan-kegiatan itu akan me-numbuhkan dorongan untuk `bertanya'.
Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar.

4.   MASYARAKAT BELAJAR (LEARNING COMMUNITY)
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembe­lajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Ketika seorang anak baru belajar meraut pinsil dengan peraut elektronik, ia ber­tanya kepada temannya "Bagaimana caranya? Tolong bantuin, aku!" Lalu temannya yang sudah biasa, menunjukkan cara meng­operasikan alat itu. Maka, dua orang anak itu sudah membentuk masyarakat-belajar (learning community).
Hasil belajar diperoleh dari `sharing' antara teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Di ruang ini, di kelas ini, di sekitar sini, juga orang-orang yang ada di luar sana, semua adalah anggota masyarakat-belajar.
Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pem­belajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya hiterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan seterusnya. Kelom­pok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, balk keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang `ahli' ke kelas. Misalnya tukang sablon, petani jagung, peternak susu, teknisi komputer, tukang cat mobil, tukang reparasi kunci, dan sebagainya.
"Masyarakat-belajar" bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. "Seorang guru yang menga)ari siswanya" bukan contoh masyarakat­belajar karena komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu informasi hanya datang dari guru ke arah siswa, tidak ada arus informasi yang perlu dipelajari guru yang datang dari arah siswa. Dalam contoh ini yang belajar hanya siswa bukan guru. Dalam masyarakat belajar, dua kelompok (atau lebih) yang terlibat dalam komunikasi pem­belajaran saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya.
Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap pihak harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, penga­laman, atau ketrampilan yang berbeda yang perlu dipelajari.

Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bisa menjadi sumber belajar, dan ini berarti setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahuan dan pengalaman. Metode pembelajaran dengan teknik "learning community" ini sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam
Ø  Pembentukan kelompok kecil
Ø  Pembentukan kelompok besar
Ø  Mendatangkan `ahli' ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, perawat, petani, pengurus organisasi, polisi, tukang kayu, dsb.)
Ø   Bekerja dengan kelas sederajat
Ø  Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya
Ø   Bekerja dengan masyarakat
Dalam sebuah pembelajaran selalu ada model yang bisa ditiru. Guru memberi model tentang- bagaimana cara belajar'.

5.   PEMODELAN (MODELlNG)
Komponen CTL selanjutnya adalah pemodelan. Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan ter­tentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olah raga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggeris, dan se­bagainya. Atau, guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi model tentang `bagaimana cara belajar'.
Guru dapat memberi contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum siswa melaksanakan tugas. Misalnya, cara menemukan kata kunci dalam bacaan. Dalam pembelajaran tersebut guru mendemonstrasikan cara menemukan kata kunci dalam bacaan dengan menelusuri bacaan secara cepat dengan memanfaatkan gerak mata (scanning). Ketika guru mendemontrasikan cara membaca cepat tersebut, siswa mengamati guru membaca dan membolak-balik teks. Gerak mata guru dalam menelusuri bacaan menjadi perhatian utama siswa. Dengan begitu siswa tahu bagaimana gerak mata yang efektif dalam melakukan scanning. Kata kunci yang ditemukan guru disampaikan kepada siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran menemukan kata kunci secara cepat. Secara sederhana, kegiatan itu disebut pemodelan. Artinya, ada model yang bisa ditiru dan diamati siswa, sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci. Dalam kasus itu, guru menjadi model.
Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberi contoh temannya cara melafalkan suatu kata. Jika kebetulan ada siswa yang pernah memenangkan lomba baca puisi atau memenangkan kontes berbahasa Inggeris, siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Siswa `contoh' tersebut dikatakan sebagai model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai `standar' kompetensi yang harus dicapainya.
Model juga dapat didatangkan dari luar. Seorang penutur asli ber-bahasa Inggeris sekali waktu dapat dihadirkan di kelas untuk men-jadi `model' cara berujar, cara bertutur kata, gerak tubuh ketika berbicara, dan sebagainya.
Bagaimanakah contoh praktek pemodelan di kelas?
Ø  Guru olah raga memberi contoh berenang gaya kupu-kupu di hadapan siswa
Ø  Guru PPKN mendatangkan seorang veteran kemerdekaan ke kelas, lalu siswa diminta bertanya jawab dengan tokoh itu
Ø  Guru geografi menunjukkan peta jadi yang dapat digunakan sebagai contoh siswa dalam merancang peta daerahnya
Ø  Guru biologi mendemonstrasikan penggunaan thermometer suhu badan
Ø  Guru bahasa Indonesia menunjukkan teks berita dari Harian Kompas, Jawa Pos, dsb. sebagai model pembuatan berita. • Guru kerajinan mendatangkan `model' tukang kayu ke kelas, lalu memintanya untuk bekerja dengan peralatannya, se­mentara siswa menirunya.

6.   REFLEKSI ( REFLECTlON)
Refleksi juga bagian penting dalam pembela) aran dengan pendekatan CTL. Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Misalnya, ketika pelajaran berakhir, siswa merenung "Kalau begitu, cara saya menyimpan file selama ini salah, ya! Mestinya, dengan cara yang baru saya pelajari ini, file komputer saya lebih tertata."
Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses. Pengeta­huan dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit-demi sedikit. Guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya.
Kunci dari itu semua adalah, bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak siswa. Siswa mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru.
Pada akhir pembelajaran, guru me­nyisakan waktu sejenak agar siswa me­lakukan refleksi. Realisasinya berupa
Ø pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu
Ø catatan atau jurnal di buku siswa
Ø Kesan dan saran siswa mengenai pem­belajaran hari itu
Ø dlskusl
Ø hasil karya.
Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.
Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melulu hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanya salah satunya. Itulah hakekat penilaian yang sebenarnya.

7.   PENILAIAN YANG SEBENARNYA (AUTHENTlC ASSESSMENT)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa menberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gam­baran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru meng­identifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang ke­majuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak dilakukan di akhir periode (cawu/semester) pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar (seperti UAN/UAS), tetapi dilakukan bersama dengan secara ter­integrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.
Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian (assessment) bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembela­jaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn), bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.
Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Guru yang ingin mengetahui perkembangan belajar Bahasa Inggris bagi para siswanya harus mengumpulkan data dari kegiatan nyata saat para siswa menggunakan bahasa Inggris, bukan pada saat para siswa mengerjakan tes bahasa Inggris. Data yang diambil dari kegiatan siswa saat siswa melakukan kegiatan berbahasa Inggris balk di dalam kelas maupun di luar kelas itulah yang disebut data autentik.

Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melulu hasil. Ketika guru mengajarkan sepak bola, siswa yang tendangannya paling bagus, dialah yang memperoleh nilai tinggi. Dalam pembelajaran bahasa asing (Bahasa Inggeris), siapa yang ucapannya cas-cis-cus, dialah yang nilainya tinggi, bukan hasil ulangan tentang grammarnya. Penilaian autentik menilai pengetahuan dan ke­trampilan (performansi) yang diperoleh siswa. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain.

Karakteristik authentic assessment:
• Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran ber­langsung
• Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
• Yang diukur keterampilan dan performansi, bukan meng­ingat fakta
• Berkesinambungan • Terintegrasi
• Dapat digunakan sebagai feed back
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa
(1)     proyek/kegiatan dan laporannya
(2)     PR
(3)     Kuis
(4)     Karya siswa
(5)     Presentasi atau penampilan siswa
(6)     Demonstrasi
(7)     Laporan
(8)     Jurna
(9)     Hasil tes tulis
(10)   Karya tulis
Dengan demikian dalam authentic assessment, pertanyaan yang ingin dijawab adalah "Apakah anak-anak belajar?", bukan "apa yang sudah diketahui?" Jadi, siswa dinilai kemampuannya dengan berbagai cara.

(Sumber: Bahan PelatihanTerintegrasi Basis Komptensi (PTBK) )
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: MODEL PEMBELAJARAN KONTEKTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)
Ditulis oleh Aina Mulyana
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://ainamulyana.blogspot.com/2011/12/model-pembelajaran-kontektual.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

1 komentar:

steoes assakkurae mengatakan...

mengembangkan materi kontekstual, teori apa yang digunakan, apakah menggunakan teori pembelajaran kontekstual?????

Poskan Komentar

KISI-KISI UN 2015

Soal Latihan UN 2015

Statistik Tayang

Pendidikan Kewargegaraan | Copyright of PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN.